Tabanan Mengusung Mario sang Maestro Nan Virtuoso
JIKA bumi Bali tak melahirkan seniman I Ketut Marya, mungkin wajah perkembangan tari Bali tidak seperti sekarang. Oleh karena ”pemberontakan” laki-laki tampan yang dilahirkan di Belaluan (Denpasar) dan besar di Banjar Lebah, Tabanan, inilah yang mengobarkan inovasi seni tari yang hingga kini apinya tetap membara. Karya tarinya, Kebyar Duduk (1925) dan Oleg Tamulilingan (1952) menjadi tonggak dan pelopor cikal bakal sebuah genre seni pertunjukan yang kini disebut seni kebyar. Orisinalitas artistik dan presentasi estetik Kebyar Duduk atau juga disebut Kebyar Trompong dan Oleg Tamulilingan, tak tertandingi hingga hari ini.
Marya yang meninggal tahun 1968 dalam usia 69 tahun, meniti kesenimannya dengan asupan tari-tarian klasik. Pada usia belasan tahun ia sudah dikenal masyarakat di sekitar Tabanan sebagai penari Sisya (dalam dramatari Calonarang) dan Gandrung (sejenis tari Joged yang dibawakan penari pria). Ketika mulai menginjak dewasa, Ketut Marya mempesona penonton dengan pentas tari Jauk dan Topeng. Dari penguasaan tari klasik itu menstimulasinya berolah rasa merangkai sebuah tari baru. Adalah nuansa ritmis dan dinamis dari orkestrasi Gong Kebyar yang memicu adrenalin estetik Marya, berimprovisasi mengalirkan gerak dan meletupkan ekspresi hingga tercetuslah tari yang sebagian besar diragakan berjinjit-jinjit setengah duduk, Kebyar Duduk.
Seiring dengan kian lebarnya ruang jelajah perkembangan Gong Kebyar dari Bali Utara ke seantero Bali, nama Marya sebagai penari dan pelatih tari Kebyar Duduk juga semakin masyur. Ketokohan Marya sebagai maestro tari begitu melambung ketika ia berhasil menciptakan tari Oleg Tamulilingan pada tahun 1952. Melalui serangkaian lawatan pentasnya ke mancanegara, nama Marya pun menginternasional. Penonton Amerika dan Eropa mengagumi tariannya, mengelu-elukan namanya dengan lafal lidah mereka, Marya menjadi Mario. Menurut pakar tari Indonesia, Soedarsono, masyarakat Amerika dan Eropa menjuluki Ketut Marya The Great Mario.
Nama besar Ketut Marya, selain menjadi kebanggaan masyarakat Bali dan Indonesia, kini diusung penuh respek Kabupaten Tabanan. Lihatlah, arena berkesenian yang terletak di jantung kota, diberi nama Gedung Mario. Simaklah, beberapa tahun belakangan, di Gedung Mario tersebut, sekian kali telah digelar pentas seni atau lomba tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk. Terakhir, 24-27 Agustus lalu, telah digelar pula pembinaan tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk yang diikuti oleh 24 sanggar tari se-Kabupaten Tabanan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Tabanan, sebagai penyelenggara pembinaan kedua karya Marya ini, secara khusus mendatangkan narasumber dua penari sepuh, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin (73 tahun) dan Ida Bagus Oka Wirjana (79 tahun), yang pernah berguru langsung kepada Marya.
Alasan mendatangkan Gusti Ayu Rasmin dan Ida Bagus Wirjana yang berasal dari Gianyar, kiranya sebagai ungkapan penghormatan pada Marya, lewat idealisme mengawal keaslian kedua tari monumental itu. Ayu Rasmin adalah penari pertama Oleg Tamulilingan yang diajarkan oleh Marya menjelang tour keliling Amerika dan Eropa pada tahun 1952. Oka Wirjana yang pada masa remajanya tinggal di Tabanan, selain sebagai pengagum juga pernah ditempa langsung oleh Marya. ”Selain versi Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk yang umum dikenal masyarakat Bali, kami di Tabanan ingin melestarikan versi asli Marya,” ujar Ni Luh Nyoman Sri Suryati, S.Sn., alumnus ISI Denpasar, pimpinan sanggar tari Sekar Rare Tabanan.
Pelatihan tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk ”asli” Marya itu, ternyata banyak mengundang minat generasi muda Tabanan. Ratusan remaja putra dan putri Tabanan dengan penuh kesungguhan mengikuti pelatihan yang diarahkan oleh Gusti Ayu Rasmin dan Oka Wirjana itu. Hasilnya, Sabtu (27/8) sore dipertontonkan kepada masyarakat umum di Gedung Mario. Sebagian tampil menari dengan pakaian latihan dan beberapa orang menari dengan kostum lengkap, diiringi sekelompok penabuh. Tak kurang dari Wakil Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya, menyambut sumeringah pentas tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk itu. ”Kalau saya masih muda, rasanya ingin sekali belajar tari Oleg dan Kebyar Duduk yang asli, karya seniman besar Tabanan ini,” katanya bergairah.
Asli dan tidak asli dalam konteks tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk karya Ketut Marya tersebut, jika diperdebatkan, akan tidak berkesudahan. Sebab ketika para seniman tari kebyar tempo dulu seperti Ketut Marya, Gde Manik, atau Nyoman Kaler mentransmisikan ciptaannya di berbagai tempat di Bali, mereka selalu tergoda untuk merevisi dan mengembangkannya. Kreativitas tiada henti sesuai dengan suasana batin dan kultur lingkungan tersebut memunculkan variasi seni, tari kebyar, yang dirawat oleh masing-masing komunitas seni dan masyarakat. Di Peliatan, Gianyar, menurut Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, tari Oleg Tamulilingan yang diajarkan I Marya padanya, masih dipertahankan dengan teguh.
Namun jika ditarik secara kultural, perhatian yang ditunjukkan Pemkab Tabanan pada cipta tari Ketut Marya selain dapat dimaknai sebagai bentuk pengayoman, tentu juga untuk meneguhkan sebuah jatidiri. Karakteristik estetik Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk serta Ketut Marya yang virtuoso (seniman hebat), sangat meyakinkan didaulat sebagai pemberi identitas dan spirit masyarakat yang berkeadaban. Bila demikian adanya semangat serta komitmen masyarakat dan Pemkab Tabanan, tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk akan berkibar lestari di Tabanan; Gedung Mario mungkin akan diberdayakan Pemkab Tabanan sebagai arena berkesenian yang berwibawa; dan patung beton Oleg Tamulilingan yang cacat tak terurus di depan gedung itu bisa jadi akan diganti pula dengan patung berbahan perunggu dalam visualisasi estetika rupa yang lebih menggugah.
* kadek suartaya
sumber: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=kategoriminggu&kid=15&id=Budaya
====================================
Proses Berkesenian Dekonstruktif dikobarkan Ketut Marya
Ia mengatakan, Marya yang akhirnya dikenal dengan Ketut Mario itu adalah seniman berbasis seni tradisi klasik, namun mampu menginterpretasikan tabuh-tabuh instrumental gamelan gong kebyar yang kemudian mengkristal menjadi tari baru yang dikenal sebagai kebyar duduk.
Tatanan tari tradisi diterobosnya, namun identitas estetik tari Bali lebih diberi artikulasi artistik. Tari kebyar duduk atau kemudian juga dikenal sebagai tari Terompong, menjadi tonggak pembaharuan tari jenis kebyar.
Demikian pula yang dilakukan I Wayan Limbak di Bedulu, Gianyar yang berkolaborasi dengan seniman asing Walter Speies, pada tahun 1930-an melahirkan tari monumental kecak yang telah dikenal masyarakat dunia.
Kadek Suartaya menjelaskan, seniman melakukan dekonstruksi koor cak dalam ritual penolak bala Sanghyang menjadi tari Cak turistik itu merupakan prestasi yang luar biasa bagi perkembangan kesenian Bali.
Hal itu perlu terus dilakukan untuk meningkatkan apresiasi dan khasanah seni budaya Bali, agar bisa terus mau sesuai perkembangan seni-seni di berbagai negara belahan dunia, harap Kadek Suartaya.
Tari kebyar duduk dan oleg tambulilingan, tari kelincahan olah tubuh yang serasi dengan instrumen gamelan yang mengiringi, hasil racikan I Ketut Mario, seniman asal Tabanan itu hingga kini senantiasa hidup dalam keabadian.
Remaja putra dan putri Pulau Dewata banyak yang berangan-angan untuk bisa menguasai tari romantisme laki-perempuan dengan sempurna, karena setiap geraknya mengandung karakter keindahan yang khas, tutur Kadek Suartaya.(*)
COPYRIGHT © 2011
Hukum Adat Bali “Matindih” dalam Pengangkatan Anak
Isi artikel ini di unduh dari situs ini, Klik saja disini
PENGANGKATAN anak menurut hukum adat Bali, mengacu kepada Peraturan (Paswara) Tanggal, 13 Oktober 1900 tentang Hukum Waris Berlaku bagi Penduduk Hindu Bali dari Kabupaten Buleleng, Dikeluarkan oleh Residen Bali dan Lombok (F.A.Liefrinck) dengan Permusyawarahan Bersama-sama Pedanda-pedanda dan Punggawa-punggawa.
Paswara ini pada awalnya hanya berlaku di Buleleng, tetapi sejak tahun 1915, juga diperlakukan untuk seluruh Bali Selatan. Pasal 11 ayat (1) menentukan sebagai berikut. “Apabila orang-orang tergolong dalam kasta manapun djuga jang tidak mempunjai anak-anak lelaki, berkehendak mengangkat seorang anak (memeras sentana) maka mereka itu harus mendjatuhan pilihannja atas seorang dari anggota keluarga sedarah jang terdekat dalam keturunan lelaki sampai deradjat kedelapan”. Dalam praktik kehidupan masyarakat adat di Bali (desa pakraman), pengangkatan anak juga perlu mendapat persetujuan seluruh warga desa pakraman melalui rapat (paruman) desa, dan baru dikatakan sah menurut hokum adat Bali setelah melaksanakan upacara paperasan.
Memperhatikan ketentuan di atas, tampak ada beberapa poin penting yang patut diperhatikan apabila pasangan suami istri ingin mengangkat anak, yaitu: (1). Anak yang diangkat berasal dari anggota keluarga sedarah terdekat (“kasta” yang sama), dalam garis keturunan laki-laki. (2) Perlu mendapat persetujuan keluarga dan desa pakraman. (3) Anak yang diangkat beragama Hindu.
Kalau dilihat dari sudut pandang hak asasi manusia atau sudut pandang masyarakat yang lain, persyaratan pengangkatan anak seperti digambarkan di atas, menimbulkan beberapa pertanyaan. (1). Kenapa pengangkatan anak harus berasal dari keturunan keluarga laki-laki, bukankah hal itu bertentangan dengan hak asasi manusia? (2). Lebih dari itu, apa pentingnya desa pakraman ikut campur urusan pengangkatan anak oleh keluarga tertentu? (3). Untuk apa memastikan agama calon anak angkat harus Hindu, bukankah masalah agama, masalah keyakinan itu adalah masalah pribadi seseorang?
Adanya persyaratan yang relatif ketat dalam pengangkatan anak menurut hukum adat Bali dibandingkan dangan ketentuan serupa berdasarkan hukum yang lainnya, terkait dengan swadharma dan spirit matindih. Seorang anak angkat yang diangkat anak sesuai dengan hukum adat Bali, memiliki kedudukan yang sama persis dengan anak kandung. Hal ini berarti, anak angkat harus melaksanakan kewajiban (swadharma) terhadap keluarga dan masyarakat, dan mendapatkan hak (swadikara) yang sama dengan anak kandung.
Kewajiban
Kewajiban terhadap keluarga dan masyarakat (desa pakraman) yang harus dilaksanakan, dapat dikelompokkan menjadi tiga. (1) Kewajiban yang berkaitan dengan aktivitas keagamaan sesuai dengan ajaran agama Hindu (parhayangan), (2) kewajiban yang berhubungan dengan aktivitas kemanusiaan (pawongan) dan kewajiban memelihara lingkungan (palemahan) baik itu untuk kepentingan keluarga maupun masyarakat. Kewajiban sosial-spiritual ini pada dasarnya adalah untuk meneruskan penauran (membayar hutang), yang dikenal dengan tri rna (tiga hutang), yang terdiri dari: (1) Dewa rna atau hutang jiwa kepada Tuhan. (2) Pitra rna atau hutang kehidupan kepada leluhur (orang tua). (3) Rsi rna atau hutang ilmu pengetahuan kepada orang-orang suci (termasuk guru). Hutang yang nyata (sekala), dibayar secara nyata dalam bentuk materi, sementara hutang gaib (niskala), “dibayar” dengan melaksanakan upacara agama sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Kasta dapat diartikan sebagai struktur masyarakat yang bertingkat berdasarkan keturunan (wangsa) seperti di Bali (sudra, wesya, kesatria dan brahmana), atau bisa juga diartikan sebagai profesi atau jabatan (buruh, pengusaha, prajurit, presiden). Idealnya pasangan suami istri mengangkat anak yang berasal dari “kasta” yang sama. Apabila anak yang diangkat berasal dari “kasta” berbeda, cendrung menimbulkan rupa-rupa “penyakit” dalam keluarga dan masyarakat. Tindih, sutindih, matindih berarti sikap yang siap menerima (pageh) dalam suasana suka maupun duka. Sikap tindih muncul karena adanya ikatan sekala (pekerjaan sama, asal sama, kepentingan sama), ikatan niskala (agama yang sama), serta adanya ikatan sekala-niskala (keturunan kasta yang sama).
Keluarga akan menolak pengangkatan anak yang tidak berasal dari keturunan (laki-laki) kasta dan agama yang sama, karena tidak yakin anak yang diangkat dapat melaksanakan swadharma keluarga dan matindih terhadap keluarga angkatnya. Masyarakat (desa pakraman) akan menolak pengangkatan anak yang tidak berasal dari agama yang sama, karena tidak yakin anak yang diangkat itu dapat melaksanakan swadharma dan matindih terhadap desa pakraman.
* Wayan P. Windia
Kota Sebagai Produk
B. Kota Sebagai Produk
- Teori figure/ground ——
- Teori linkage ——
- Teori place ——
Jika diperhatikan berbagai literatur mengenai perencanaan dan perencangan kota, maka cenderung ada anggapan bahwa perencanaan kota berfokus pada suatu proses, yaitu rencana. Sedangkan perancangan kota lebih menekankan pada produknya, yaitu desain. Namun, pendekatan tersebut agak bersifat simplifikasi karena seandainya suatu proses tidak berkonsentrasi pada hasil produknya, maka proses tersebut tidak akan berjalan dengan baik karena dilakukan tanpa tujuan konkret. Pada sudut lain, kosentrasi pada produk yang tidak memperhatikan proses pembuatannya akan cenderung tidak menghasilkan produk yang baik, karena tidak realistislah membuat sebuah produk tanpa memiliki perhatian pada proses pembuatannya.
Kenyataan tersebut jelas dan umum pada setiap pembuatan artefak yang kecil, misalnya dalam skala mikro, yaitu rumah. Masuk akal bahwa rumah sebagai sebuah produk yang baik membutuhkan sebuah proses pembuatan yang baik pula. Hal tersebut sering tidak diperhatikan dalam skala makro, yaitu kota. Kadang-kadang ada anggapan bahwa sebuah kota sebagai produk yang baik akan terjadi secara langsung tanpa proses pembuatan yang jelas.
Pandangan tersebut bersifat niaf karena tidak akan terjadi. Misalnya pikiran bahwa banyak pembuatan mobil akan menghasilkan sebuah mobil yang baik tanpa ada tujuan yang jelas dan proses kerja sama yang baik. Tidak harus heran kalau akhirnya mobil tersebut memiliki sepuluh macam rem yang canggih tetapi sama sekali tida ada roda!.
Sama halnya dengan kota. Walaupun sudah jelas bahwa kota sebagai artefak lebih rumit daripada sebuah mobil saja, tetapi bagian-bagiannya tetap memiliki hubungan erat secara bersam-sama, karena kota berarti lebih luas daripada jumlah bangunan yang berada di dalamnya.
Walaupun hubungan arsitektural tersebut harus dibahas secara terpadu dalam bidang perencangan kota, muncul kesulitan bahwa tidak mungkinlah semua dapat tercapai secara sekaligus, karena untuk memahami satu keseluruhan dibutuhkan melihat bagian-bagiannya.
Dalam Bagian B ini tekanan akan diberikan pada teori-teori perencangan kota yang memperhatikan secara khusus kota sebagai produk
1. Pengantar
1.1 Tiga Kelompok Pokok Teori Perancangan Kota
Secara umum para arsitek tertarik mengenai teori-teori yang memandang kota sebagai produk. Akan tetapi, kelompok teori tersebut sudah memiliki sifat kompleks. Itulah salah satu alasan utama mengapa banyak arsitek dan perancangan kota sering gagal jika mendesain sebuah kawasan kota dengan baik, yakni karena belum memahami lingkup dan hubungan rumit yang ada antara teori-teori tersebut. Tida ada satu jawaban atau satu teori pun yang menjelaskan bagaimana sebuah kawasan seharusnya dirancang sebagai sebuah produk perkotaan.
Walaupun demikian, kesulitan tersebut tidak perlu membingungkan karena dalam perencangan kota dikenal tiga kelompok teori perkotaan secara arsitektural yang sangat berguna bagi para perancang kota, khususnya jika perancang memperhatikan implikasi antara teori yang satu dan teori yang lain karena setiap teori memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Oleh sebab itu, setiap teori perlu digabungkan satu dengan yang lain supaya dapat diperoleh suatu analisis kota dan arsitektur yang bermakna sebagai landasan perancangan kota secara arsitektur. Roger Trancik sebagai tokoh perancangan kota mengemukakan bahwa ketiga pendekatan kelompok teori berikut ini merupakan landasan penelitian perancangan perkotaan, baik secara historis maupun modern.[1] Ketiga pendekatan tersebut sama-sama memiliki suatu potensi sebagai strategi perancangan kota yang menekankan produk perkotaan secara terpadu.
(Catatan : ketiga istilah teori berikut ini telah dipakai di dalam bidang perancangan kota serta literatur arsitektur secara umum dan luas, sehingga tidak akan dipakai terjemahannya. Istilah-istilah tersebut juga umum dalam literatur ilmiah di indonesia meskipun implikasi hubungannya jarang dibahas secara luas[2]).
Teori figure/ground
Teori pada kelompok pertama ini dapat dipahami melalui pola perkotaan dengan hubungan antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis figure/fround adalah alat yang baik untuk :
- Mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan (urban fabric);
- Mengidentifikasi masalah keteraturan massa/ruang perkotaan.
Kelemahan analisis figure/ground muncul dari dua segi :
- Perhatiannya hanya mengarah pada gagasan-gagasan ruang perkotaan yang dua dimensi saja;
- Perhatiannya sering dianggap terlalu statis.
Teori linkage
Teori pada kelompok kedua dapat dipahami dari segi dinamika rupa perkotaan yang dianggap sebagai generator kota itu. Analisis linkage adalah alat yang baik untuk :
- Memperhatikan dan menegaskan hubungan – hubungan dan gerakan-gerakan sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric).
Kelemahan analisis linkage muncul dari segi lain :
- Kurangnya perhatian dalam mendefiniskan ruang perkotaan (urban fabric) secara spasial and kontekstual.
Teori place
Teori pada kelompok ketiga dipahami dari segi seberapa besar kepentingan tempat-tempat perkotaan yang terbuka terhadap sejarah, budaya, dan sosialisasinya. Analisis place adalah alat yang baik untuk :
- Memberikan pengertian mengenai ruang kota melalui tanda kehidupan perkotaannya;
- Memberi pengertian mengenai ruang kota secara kontekstual.
Kelemahan analisis place muncul dari segi :
- Perhatiannya yang hanya difokuskan pada satu tempat perkotaan saja.
Gambar 66. Tiga pendekatan pokok teori-teori perancangan yang menganggap kota sebagai produk. (Digambar ulang menurut Trancki. Roger. Op.cit hlm. 98)
1.2 Pendekatan Pokok Terhadap Produk Ruang/Morfologi Kota
Yang diperlukan pada masa kini adalah suatu pendekatan yang terpadu. Ketiga kelompok teori itu bersama-sama mendefinisikan pola massa perkotaan dan tata ruang perkotaan dengan suatu struktur yang jelas di antara solid (massa) dan void (ruang tertutup/terbuka). Sekaligus pula mengatur dan menghubungkan bagian-bagian-bagian kawasan kota serta memberikan respons terhadap ketubuhan orang-orang di kota beserta semua elemen kota yang bersifat arsitekstural, yang tepat dengan lingkungannya. Sebelum melakukan sintesis seperti itu, terlebih dibutuhkan analisis terhadap elemen-elemen arsitektur perkotaan. Aspek tersebut akan mendapat perhatian yang lebih mendalam pada bab ini.
Pendekatan-pendekatan teori yang dibahas berfokus pada konsep urbanisme (perkotaan) sebagai landasan yang mengutamakan hubungan lingkungan perkotaan secara spasial serta morfologis yang bersifat ‘publik’ di dalam perancangan kawasan perkotaan. Artinya, perhatian secara khusus tidak akan diberikan pada strategi-strategi pemakaian tanah perkotaan (city-land-use) atau masalah sistem prasarana perkotaan (city-infrastructure). Perhatian itu sebetulnya penting, namun strategis tersebut memiliki hubungan erat dengan konsep urbanisme setempat. Oleh karena itu, sebagai permulaan, analisis –analisis perkotaan tersebut sangat dibutuhkan untuk memformulasikan sebuah sintesis perancangan.
Kembali perlu diperhatikan secara arsitektural definisi modern terhadap istilah ‘kota’ yang sudah diungkapkan lebih dahulu,[3] yaitu mengenai penyusunan perkotaan serta hierarkinya. Dalam perumusan tersebut
Bagan 67. Diagram hubungan antara massa dan ruang perkotaan
akan jelas bahwa prinsip-prinsip dan elemen-elemen arsitektur perkotaan secara fisik perlu diciptakan dan disusun secara dinamis dengan cara tertentu yang sesuai dengan lokasi kawasan di dalam kota. Ciptaan dan susunan tersebut dapat diklasifikasikan dan direalisasikan dengan memperhatikan dua arah perhatian, yaitu melalui perhatian massa atau ruang (lihat Bagan 67).
Bagi kebanyakan perancang, massa perkotaan (struktur positif) tidak begitu sulit untuk memperhatikan, tetapi ruang perkotaan (struktur negatif) sering kurang diperhatikan. Oleh karena perhatian yang sepihak saja, masuk akal jika penataan kota, baik secara keseluruhan maupun bagiannya, sering kurang berhasil di dalam realitas pembangunan kota secara arsitektural. Penyebabnya adalah pada keterbatasan perhatian dalam penataan kota, di mana muncuk lebih sedikit elemen-elemen perkotaan yang spasial, akibat perhatian hanya diberikan pada elemen yang bersifat massa.
Sebetulnya, ruang (dan secara khsuus ruang terbuka) adalah fenomena yang sudah lama dikenal sejak zaman kuno. Kenyataan itu berarti bahwa ruang terbuka – atau dalam istilah teknis lebih sering dipakai : Open space – sudah lama diperhatikan walaupun dengan bermacam-macam pendekatan. Oleh karena itu, arti open space dan secara khusus urban space (ruang perkotaan) tidak selalu dipahami berdasarkan pandangan yang sama. Akibatnya, open space sering menjadi sesuatu yang subjektif saja. Arti open space harus dibedakan dalam dua aspek, sebagai berikut :
- Open space dalam lingkungan gaya arsitektur;
- Openspace dalam lingkungan ilmu arsitektur.
Dalam lingkungan gaya arsitektur (yang sagat dipengaruhi oleh sejarah seni arsitektur), arti open space adalah sesuatu yang spesifik dan subjektif. Namun dalam lingkungan ilmu arsitektur, open space dirumuskan secara umum dan lebih objektif. Di majalah-majalah arsitektur, gaya arsitektural lebih sering diperhatikan karena dari sudut pandang publisitas hal tersebut lebih menarik. Akan tetapi, di buku ini tidak akan dibicarakan gaya arsitektur perkotaan karena aspek itu sangat subjektif dan kurang ilmiah. Open space perlu di bahas secara objektif dan umum dengan memperhatikan tiga prinsip-prinsi berikut ini :
Bagan 68. Tiga prinsip ruang terbuka. Istilah-istilah bahasa Inggris yang digunakan sudah dapat dianggap umum, karena di dalam bahasa Indonesia Istilah-istilah ruang publik (umum), ruang semi publik/semi privat, dan ruang privat (pribadi) sering memiliki konotasi yang sedikit berbeda
Sejak puluhan tahun dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang hubungan antara cara pembangunan dan tingkah laku sosial. Meskipun demikian, masih belum banyak literatur yang secara mendalam membahas konteks tersebut. Rupa-rupanya dimensi ruang serta lingkupnya sebagai objek penelitian kurang menarik bagi ilmuwan sosiologi dan antropologi.[4] Bagaimana dengan para ilmuwan arsitektur? Para arsitek secara umum tertarik mengenai dimensi ruang, tetapi jarang pada implikasi sosialnya. Pemisahan antara ruang dan perilaku tidak berarti bahwa ruang selalu juga secara langsung berarti tingkah laku, dan demikian pula sebaliknya.[5] Ruang perkotaan tertentu selalu memiliki watak sosial tertentu. Artinya hubungan antara ruang dan dimensi sosial erat dan spesifik sehingga perlu diteliti secara luas dan baik. Kaitan di antaranya memang rumit, namun banyak ahli kota mengamati bahwa saat ini secara umum ada kecenderungan menurunnya ruang publik (umum) dengan diubah menjadi ruang privat. Bagaimana implikasi bagi kota serta masyarakatnya dalam perkembangan tersebut ? Bagaimana arti ruang perkotaan yang sifatnya terbuka?
Arti Ruang Terbuka di dalam Tradisi Permukiman Indonesia
Harmen Van De Wai memberikan suatu penjelasan yang menarik mengenai arti ruang terbuka perkotaan di indonesia (khususnya kasus kota Surabaya). Pengamatannya berdasarkan pada beberapa wawancara, khususnya dengan Josef Prijotomo.[6] Menurut Van de Wal, kota-kota Asia (dan khususnya kota-kota Indonesia) adalah kota yang bermacam-macam bentuknya dengan tingkat variasi arsitektural yang tinggi. Dalam kota semacam itu tidak ada pandangan terhadap urban space yang dilihat sebagai ruang yang kekososngannya dapat dibentuk. Menurutnya, di dalam lingkungan kota di Indonesia gagasan mengenai urban space tidak relevan, karena kota-kota Indonesia hanya dapat dianggap sebagai kota dengan places (tempat-tempat) dan lines (garis-garis). Dalam pengertian semacam ini ruang terbuka di kota-kota Indonesia hanya dilihat sebagai sesuatu yang kosong dan tidak dibentuk (formless emptiness). Akibatnya, open space menurut pengertian orang Eropa jarang dibentuk di kota Indonesia. Namun, menurut penjelasan tersebut, semua perhatian orang Eropa pada hubungan antara ruang – ruang terbuka tidak berlaku dalam lingkungan Indonesia.
Dari pandangan ini menjadi jelas bahwa muncul dua falsafah tentang open space. Dua pendekatan tersebut memang ada dan berbeda dalam beberapa aspek. Walaupun demikian, solusi yang diberikan van de Wal tidak dapat disetujui karena jarak antara kedua pendekatan tersebut harus diperhatikan dengan cara lain. Sebagai komentar, dapat dikatakan beberapa hal berikut.
- Secara prinsip, ruang kota yang terbuka dibutuhkan serta digunakan dalam setiap kota di dunia ini, walaupun pendekatan terhadapnya dapat berbeda.
- Kebanyakan konsep open space di Eropa pada pokoknya dapat dilihat sebagai pendekatan terhadap open space yang kecenderungannya mengambil sikap aktif (ruang sebagai tujuan pembentuan massa). Kebanyakan konsep open space di negara Asia (sebetulnya tidak semua daerah) dilihat sebagai pendekatan pasif (ruang sebagai akibat pembentukan massa).
Gambar 69. Ruang terbuka di dalam salah satu penataan permukiman tradisional di Indonesia, yaitu di Desa Babomatalo. Nias (sumber foto : Bier, Michael. Op.cit. him, 35,36).
- Di dalam sikap aktif tersebut, kualitas open space sering dinilai secara visual dengan penyusunannya yang bersifat teknis dan dianggap modern. Pada sikap pasif, kualitasnya dilihat dari segi sosial yang disusun secara organis. Oleh sebab itu, di dalam lingkungan kawasan tradisional kualitas ruang terbuka (alun – alun dan sebagainya) yang ada sering tidak diakui dan diperhatikan dengan baik karena dianggap ada secara alamiah, tanpa adanya kesadaran bahwa kebutuhan ruang terbuka sangat berarti bagi suatu kawasan, baik di desa maupun bahkan di dalam kota! Masyarakat perkotaan pun tidak sadar bahwa kehidupannya sedang berjalan di dalam ruang perkotaan, khususnya di kota-kota tropis dan subtropis! Akibat perhatian yang kurang tersebut, maka di dalam suatu perkembangan kota, kualitas ruang perkotaan sering dirusak oleh elemen perkotaan baru yang tidak sesuai lingkungannya.
- Pendekatan konsep open space yang berasal dari dunia Barat tidak bisa dan tidak perlu diterapkan secara langsung pada dunia Timur dan sebaliknya. Walaupu demikian, pada era globalisasi ini tidaklah mungkin pendekatan terhadap suatu daerah dapat dikembangkan tanpa suatu solusi analisis kota berdasarkan gabungan antara realitas, nilai, serta masalah baru dalam lingkungannya pada saat ini dan pada masa mendatang, yang makin lama makin kuat dipengaruhi oleh globalisasi tersebut.
Jelaskan bahwa masalah pada open space di kota-kota Indonesia tidak sama dengan kota-kota di inggris, Italia, atau Amerika Serikat. Akibatnya, bentuk dan wujud open space di kota-kota Indonesia tidak perlu sama, walaupun banyak contoh sering dijiplak di mana saja pada era globalisasi ini (seperti plaza, mall, agora, avenue dan lain-lain). Namun demikian, kota-kota Indonesia sangat membutuhkan suatu strategi terhadap arti dan rupa open space yaitu suatu strategi yang tidak hanya terbatas pada apa yang sudah ada, melainkan berfokus pada kualitas bentuk kota yang selalu perlu ditingkatkan, karena sebuah bentuk kota juga mengekspresikan sebuah kehidupan kota dan sebaliknya, dan kebanyakan yang dilakukan di dalam kota sebetulnya dilakukan dalam ruang terbuka perkotaan.
Sudah saatnya dampak open space dengan segala lingkupnya juga diteliti dengan baik di dalam konteks Indonesia.
1.3 Kesimpulan
Suatu strategis terhadap masalah struktur massa perkotaan dan struktur ruang perkotaan perlu diarahkan secara konkret pada tiga aspek :
|
|||||
|
|||||
|
|||||
|
|||||
|
|||||
Bagan 70. Diagram mengenai lingkup elemen-elemen kawasan perkotaan.
1. Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang sudah ada di dalam suatu kawasan perlu diperkuat supaya kawasan itu lebih jelas dalam realitasnya.
2. Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang masih berbenturan di dalam kawasan perlu ditransformasikan supaya kawasan itu lebih mendukung realitasnya.
3. Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang belum ada di dlam suatu kawasan perlu diperkenalkan supaya kawasan itu lebih berarti dalam realitasnya.
Dalam strategi ini tidak semua elemen kota selalu berlaku di dalam morfologi struktur perkotaan tertentu, karena elemen-elemen perkotaan tergantung pada kawasan dan lingkungannya. Tiga bab berikut secara spesifik akan menyiapkan teori-teori yang berguna secara terpadu bagi pelaksanaan strategi tersebut yang mampu menciptakan suatu produk kota yang berkualitas tinggi.
[1] Trancik, roger, Op.Cit. him. 97.
[2] Pembahasan biasanya hanya berfokus pada teori-teori tersebut secara umum tanpa penerapannya ke dalam konteks di kota-kota Nusantara.
[3] Lihat him. 5
[4] Curdes, Gerhard. Stadtstruktur und Stadtgestaltung. Stuttgart. 1993. hlm. 202.
[5] Ibid. him 202
[6] Van De Wai, Harmen. Surabaya Johny, The quest for the kampung of tomorrow. Lampiran B. Thesis. Delft. 1991.
Program album keren di tripwow.tripadvisor.com
Sebuah program baru yang diluncurkan buat para bloger yang menyukai penampilan keren dalam hal album kenangan bisa diunduh di www.tripwow.tripadvisor.com. salah satunya dapat diambil contohnya: Penghijauan di Desa Pedungan klik aja disini
KAK PITIK WARGA PAGUYUBAN 276 NGAYAH RING ACARA KARYA NGUSABHA DESA
Akedik wenten warga paguyuban 276 sane maduwe kewagedan sakadi Pekak Pitik puniki. Ipun midep ring gegitan (kidung – kekawin utawi sekar madia sekar agung) taler ipun oneng ring budaya Bali sane pinih utama, inggih punika ipun seneng masesolahan utawi dados pragina – NOPENGIN. Ring sekancan galah sane prasida ipun ngayah ring pemargin karya Ngusabha Desa ring Desa Pakraman Pedungan ipun pastika sampunpolih kemawon ngaturang ayah-ayahane maduluran antuk perwakilan sakeng paguyuban 276.
Ngiring sareng-sareng semeton sami nyaksinin rikalane ipun mesolah, wantah klik kemawon iriki.
This slideshow requires JavaScript.
YAYASAN DWIJENDRA NGAYAH KE PURA AGUNG GUNUNG RAUNG
This slideshow requires JavaScript.
Desa Pakraman Taro Kaja didukung ayah-ayahannya oleh Predesa se – Amunduk Taro ngaturang “Karya Agung Panca Wali Krama Penyegjeg Jagat di Pura Kahyangan Jagat Pura Agung Gunung Raung”, yang tingkatan Yadnyanya adalah Utama, dengan wewalungan kebo 16 (enambelas) ekor namun dalam perkembangannya berkembang menjadi 22 (dua puluhdua) ekor kerbau, menjangan, kijang, kambing diperkirakan 33 ekor dlsbnya, dengan puncak Karya dilaksanakan pada sasih Kedasa rahina Buda wuku Ugu, pinanggal 23 Maret 2011.
Dalam rangka karya tersebut Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, didukung oleh seluruh unit-unit dibawah naungan Yayasan ngaturang ayah ke Pura Kahyangan Jagat Pura AGung Gunung Raung, berangkat dengan 2 buah bus yang kurang lebih terdiri 70 orang ngaturang ayah dalam suatu Karya Agung yang pernah juga berlangsung sekitar kurun waktu 380 (tiga ratus delapan puluh) tahun yang lalu, demikian Ketua Prawartaka Karya ( I Nyoman Tunjung) menjelaskan kepada pihak Yayasan Dwijendra dalam penyanggra aturan ayah-ayahan hari ini Rabu, 16 Maret 2011.
Pada kesempatan yang baik ini, Yayasan Dwijendra ngaturang Punia yang diterima oleh Manggala karya serta Prawartaka karya, dan secara panjang lebar Prawartaka Karya sempat memberikan penjelasan mengenai bagaimana Karya ini berjalan dari awal hingga mendekati hari-hari “H” atau puncak karya. Dari penjelasan prawartaka, diperoleh informasi bahwa untuk merencanakan karya ini pihak Krama Taro amat awam (tidak punya pembanding) dalam mejalankan karya dimaksud. Hanya ketika telah berjalan dan dibimbing oleh Sang Yajamana (Ida Pedanda Grya Aan) nampaknya karya yang diharapkan atau yang akan dihaturkan ini sangat didukung oleh seluruh karama Bali maupun para sang angewerat baik Bali maupun
Karya Agus Agam
This slideshow requires JavaScript.
2010 in review
The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is on fire!.
Crunchy numbers
A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 4,700 times in 2010. That’s about 11 full 747s.
In 2010, there were 28 new posts, growing the total archive of this blog to 55 posts. There were 42 pictures uploaded, taking up a total of 1mb. That’s about 4 pictures per month.
The busiest day of the year was February 10th with 67 views. The most popular post that day was Daftar Isi EBA.
Where did they come from?
The top referring sites in 2010 were google.co.id, facebook.com, arsundwi.wordpress.com, id.wordpress.com, and arsitekturdwijendra.blogspot.com.
Some visitors came searching, mostly for model rumah masa kini, peranan etika dalam dunia modern, rumah masa kini, pengertian cultural lag, and hubungan etika dengan ilmu.
Attractions in 2010
These are the posts and pages that got the most views in 2010.
Daftar Isi EBA February 2010
2 comments
Peranan Etika dalam Dunia Modern February 2010
Perubahan Budaya February 2010
Hubungan Etika Dengan Ilmu February 2010
MENIKMATI DISAIN RUMAH MASA KINI August 2009
2 comments
FL Wright sang Maestro
Lagi-lagi saya tertarik sama tulisan A Savitri tentang Sang Maestro Arsitek FL Wright. Bagi rekan-rekan yang ingin membaca artikelnya silahkan di klik aja disini
PELATIHAN TEKNIK KONSTRUKSI PEMELIHARAAN & PERAWATAN BANGUNAN GEDUNG DI BALI
BP Konstruksi berinisiatif melaksanakan pelatihan di bidang pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung, bekerjasama dengan LPJK – HAPBI – PU yang pelaksanaannya diadakan di Hotel Maxi Kuta – Legian Bali pada hari Senin 19 Juli hingga Sabtu 24 Juli 2010.
Tujuan Pelatihan: adalah untuk memberikan bekal pengetahuan pengalaman dan sikap kerja dalam pekerjaan pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung kepada tenaga konstruksi baik dari kalangan PNS (pemerintahan) sebagai regulator maupun masyarakat profesi untuk lebih dapat memahami peran sebagai insan yang ikut menjaga kelaikan fungsi bangunan gedung



















































































