Beranda > adhimastra, ARTIKEL > Hubungan Etika Dengan Ilmu

Hubungan Etika Dengan Ilmu

(Daldjoeni dalam Jujun, 1987 hal. 233 ~ 236)

Tulisan ini menyajikan hubungan antar etika dan ilmu, dimana etika lengket dengan ilmu. Sesungguhnya bebas nilai atau tidaknya ilmu merupakan masalah rumit, yang tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Mereka yang berpaham ilmu itu bebas nilai menggunakan pertimbangan yang didasarkan atas nilai diri yang diwakili oleh ilmu bersangkutan.

Bebas disitu berarti tak terikat secara mutlak. Padahal bebas dapat mengandung dua jenis makna. Pertama, kemungkinan untuk memilih; keduanya, kemampuan atau hak untuk menentukan subyeknya sendiri. Disitu harus ada penentuan dari dalam bukan dari luar.

Dengan penggulatan masalah di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa dua paham yang berbeda itu tak perlu dilihat sebagai suatu pertentangan.

Fase empiris rasional

Di zaman Yunani dulu, Aristoteles mengatakan bahw ilmu itu tak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digulati oleh manusia demi ilmu itu sendiri. Sebagai latar belakangnya dikenal ucapan: Primum vivere, deinde philosophari yang artinya kira-kira: berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafah. Memang, kegiatan berilmu barulah dimungkinkan setelah yang bersangkutan tak banyak lagi disibukkan oleh perjuangan sehari-hari mencari nafkah.

Pendapat orang, kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Dengan demikian orang dapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya. Menurut faham Yunani, bentuk tertinggi dari ilmu adalah kebijaksanaan. Bersama itu terlihat suatu sikap etika.

Di zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik mengajarkan bagaimana manusia harus mengarahkan negara. Sebaliknya ilmu tak dapat mengubah apa-apa, baik yang ada maupun yang akan datang. Pada masa itu, ilmu adalah sekedar apa yang dicapai; ilmu tak dirasakan sebagai suatu tantangan.

Tugas suatu generasi terbatas pada mencapai ilmu tersebut, untuk kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Belum ada tuntutan supaya sebelum ilmu diteruskan harus terlebih dulu dikembangkan. Baru sejak abad ke-17 ilmu giat dikembangkan di Eropa; orang juga mencari apa tujuan sebenarnya dari ilmu. Dengan itu fase yang sifatnya empiris rasional mulai bergeser ke fase eksperimental rasional. Sifat progresif ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekedar tujuan bagi dirinya sendiri melainkan suatu sarana untuk mencapai sesuatu.

Faham pragmatis

Jika sekarang ditanyakan kepada kita: apakah sebenarnya tujuan dari ilmu itu; jawaban dapat beraneka. Misalnya, untuk kemajuan, perkembangan ekonomi dan teknik, kemewahan hidup, kekayaan, kebahagiaan manusia. Mungkin ada yang mau menambahkan yang lebih mulia lagi seperti: untuk menemukan harta-harta ciptaan Tuhan.

Demikian, tadi cara manusia merenungkan tujuan ilmu. Bukan ilmu sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan yang kongkret kita hayati. Ilmu yang memunculkan diri berdampingan dengan gejala kerumitan spesialisasi, rutin kerja, krisis ekonomis, teknik perang modern, aneka gangguan rohani dan dehumanisasi.

Dalam menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya yang dalam, di situ kita terdorong untuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat ini pertama-tama tak diajukan kepada ilmu murni tetapi ilmu sebagaimana telah diterapkan dalam kehidupan.

Sebenarnya nilai dari ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa ilmu itu mengejar kebenaran dan kebenaran itu inti etika ilmu, tetapi jangan dilupakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu. Pandangan yang demikian itu termasuk faham pragmatis tentang kebenaran. Di situ kebenaran merupakan suatu ide yang berlandaskan efek-efeknya yang praktis.

Logos dan Ethos

Apa yang sebenarnya merupakan daya tarik dari ilmu bagi ilmuwan? Van Peursen sehubungan dengan ini menunjukkan pada sifat ilmu yang tak akan selesai. Dijelaskan bahwa ilmu itu beroperasi dalam ruang yang tak terbatas. Kegiatannya berisi aneka ketegangan dan gerak yang penuh dengan keresahan. Keresahan ilmu itu memang cocok dengan hasrat manusia yang tanpa henti ingin tahu segalanya.

Muncul pertanyaan ini: apakah keresahan itu sama dengan kebenaran? Apakah keresahan itu yang menciptakan kebenaran? Tulis Van Peursen: keresahan itu keinginan yang tak dapat dipenuhi atau jarak yang prinsipiil ke kebenaran.

Apakah hubungan antara keresahan ilmu sebagai daya tarik bagi hasrat ingin tahu manusia yang tanpa henti dan kebenaran? Apakah karena kebenaran itu lalu ilmu bukan tujuan bagi dirinya sendiri, sehingga perlu diperhatikan etika sebagai efek tambahan dari ilmu setelah diterapkan dalam masyarakat?

Untuk menjawabnya perlu diketahui hubungan antara logos dan ethos sebagai berikut. Martin Heidegger mengatakan bahwa jika kita sebutkan manusia itu memiliki logos, itu tak berarti bahwa manusia sekedar ditabiati oleh akal. Ditunjukkannya bahwa logos bertalian dengan kata kerja legein yang artinya macam-macam, dari berbicara sampai membaca; kemudian diluaskan menjadi memperhatikan, menyimak, mengumpulkan makna, penyimpan dalam batin, berhenti untuk menyadari.

Dalam arti yang disebut terakhir itu, logos bertemu dengan ethos dan ethos ini dapat berarti penghentian, rumah, tempat tinggal, endapan sikap. Kemudian arti logos selanjutnya: sikap hidup yang menyadari sesuatu, sikap yang mengutamakan tutup mulut untuk berusaha mendengar, dengan mengorbankan berbicara lebih. Sehubungan ini Karl Jasper menulis bahwa ilmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang keluar dari dunia yang dihuninya. Di sinilah lengketnya etika dengan ilmu!

Kebenaran Keilmuan

Apa hubungan antara tak akan selesainya ilmu dan usaha mendengarkan jawaban? Batas dari ilmu sesungguhnya bukanlah suatu garis yang dicoretkan dengan tergesa-gesa di belakang gambaran tentang dunia yang terbatas ini, sebagai petunjuk tentang selesainya sesutu. Batasnya justru berupa suatu pespektif baru yang membukakan diri, sebagai petunjuk bahwa manusia siap untuk mendengarkan. Dengan demikian, tak akan ada pertentangan antara masalah dan rahasia, antara pengertian dan keajaiban, antara ilmu dan agama.

Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran memang merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak berwarna, dapat melunturkan pengertian kebenaran, sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.

Seperti disebutkan di depan, ilmu bukan tujuan tetapi sarana, karena hasrat akan kebenaran itu berhimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggung jawab secara agama. Sebenarnya ilmuwan dalam gerak kerjanya tak usah memperhitungkan adanya dua faktor: ilmu dan tanggung jawab, karena yang kedua itu sudah lengket dengan yang pertama.

Ilmu pun lengket dengan keberadaan manusia yang transenden dengan kata-kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Di situ terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang transenden. Dengan ini berarti pula bahwa titik henti dari kebenaran itu terdapat di luar jangkauan manusia!

Daftar bacaan:

Jujun S. Suriasumantri. 1987. Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta. PT Gramedia


* lihat Mas Putra, 1988. Panca Yadnya. Jakarta, Yayasan Dharma Sarathi hal – 31

adbhir gatrani cudhyanti

manah satyena cudhyanti

widyatapobhyam bhrtatma

budhir jnanena cudhyanti

artinya:

tubuh dibersihkan dengan air,

pikiran dibersihkan dengan kejujuran,

roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa,

akal dibersihkan dengan kebijaksanaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: