Beranda > CORAT-CORET > TUGAS MULAI MEMBEBANI

TUGAS MULAI MEMBEBANI

Sebagaimana setiap tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya pekerjaan berupa tugas untuk menghadapi kegiatan wisuda ke 20 di tempat tugas mulai membebani. Dimulai dari sabtu 25 Juli menerima SK Panpel Wisuda Sarjana XX Univeritas Dwijendra Tahun 2009, dimana saya menjadi sekretaris panitia. Tadi, ketika membuka email ternyata pak Made Kartika (ketua panitia Panpel) mengirim sebuah email yang menyarankan agar segera mempersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan rencana wisuda dimaksud, yah rencana rapat, ya rencana kegiatan atau jadwal wisudanya. Nah mulai lah beban-beban di kepala ini jadi terasa. Tetapi apa boleh buat semua harus dijalani. Hidup ini adalah untuk melaksanakan kewajiban. Begitu tersurat didalam Bhagavadgita, ketika arjuna diberi nasihat oleh Kresna.

Senin, 3 Agustus 2009

Hari ini, setelah selesai rapat panitia pelaksana Wisuda Sarjana XX, aku mendengar kabar baik. Kabar bahwa amprahan dan buat keberangkatan 5 (lima) dosen mengikuti seminar ke Malang sudah disetujui, ini berarti untuk pertama kalinya dosen teknik Universitas Dwijendra keluar kandang dengan dibiayai oleh lembaga (walau dana bersangkutan memang merupakan dan Fakultas dalam porsi peruntukan seminar mahasiswa. Apa yang patut dilakukan oleh kami-kami ini, tiada lain syukur, hanya kata itu yang tepat diucapkan. Syukur.

Baru saja, Metro TV menyiarkan (live) bahwa dalam rangka RAPBN tahun 2010 gaji PNS/TNI/Polri naik sekitar 144 trilyun, hal ini dibahas dalam suatu pembahasan bertajuk “MADU & RACUN” dalam RAPBN tahun 2010. Ini lagi hanya kata Syukur yang bisa diucapkan. Ternyata bersyukur tidaklah sulit diucapkan jikalau situasi memang memungkinkan itu dapat diperoleh. Tapi pertanyaannya sekarang adalah apa mungkin rencana itu dapat direalisasikan? ketika situasi ekonomi (artinya keuangan negara amburadul adanya) berada dalam kondisi tidak stabil.

Kedua cerita di atas jelas bertolak belakang dengan judul tulisan ini (Tugas mulai membebani). Yah, inilah cerita didunia nyata (untuk kehidupan ini). Konon akan berbeda dengan cerita di dunia ilutif, bertolak belakang katanya.

BEBAN LAIN

Anakku si Gede yang dimintai tolong oleh seorang teman untuk membantunya dalam pembangunan sebuah proyek, sulit kubayangkan tugas yang dibebankan itu. Usut punya usut, ternyata kondisi proyek itu tidaklah cocok buat seorang mahasiswa semester IV yang belum punya pengalaman lapangan seperti anakku. Dengan cepat inisiatif kucetuskan agar segera bertemu dengan temanku, dengan harapan agar anakku tidak dilepas begitu saja dalam situasi proyek semacam ini. Setelah berjumpa dengan teman bersangkutan, semua kegalauan pikiranku tertumpahkan. Dan nampaknya harapanku dapat dimaklumi, dengan demikian terbebaslah anakku dari bebannya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: