Beranda > PENCERAHAN > ARTIKEL GEDE PRAMA, PANCARAN PUITIS DARI BHAGAVADGITA

ARTIKEL GEDE PRAMA, PANCARAN PUITIS DARI BHAGAVADGITA

bhagavad_gitaMembaca tulisan Gede Prama yang memang senantiasa menarik untuk direnungkan, terutama artikelnya dalam Penutur Kejernihan yang berjudul “Dalam Cahaya Terang Keheningan”. Terasa kembali mengingatkan masa-masa lalu ketika dimana sedang suka-sukanya membolak-balikkan lembaran buku bhagavadgita (ketika semasih SMA). Tapi tentunya dalam perspektif berbeda dengan pandangan dulu itu, hanya saja apa yang telah diuntai oleh penutur kejernihan Gede Prama lebih memberikan kedalaman dalam pemahaman yang mengalir dalam bahasa indah bahasa puitis dan penuh dengan ungkapan-ungkapan yang mendorong kita untuk masuk lebih kedalam.

Ketika Arjuna dinasihati oleh Sri Krisna, akan makna daripada atman pada diri manusia. Dimana sejatinya bahwa tidak ada yang dibunuh dan tidak pula ada yang membunuh atman. Kematian bagi tubuh ini adalah suatu hal yang pasti dialaminya, namun jiwa yang bersemayam dalam tubuh ini tidak pernah mengalami kematian. Yang mengerti ini sebetulnya tidak membunuh siapa-siapa.

Arjuna pun mengeluh gemetar bibirnya mengucapkannya: “Tetapi bagaimana aku, oh Madusudana bisa menyerang Bisma dan Drona, mereka yang patut kuhormati, dengan panah dalam pertempuran ini, Arisudana?”

Dua bait puitis ini dilantunkan oleh Sri Krisna buat meredakan hati gundahnya Sang Arjuna: “Engkau berduka bagi mereka yang tak patut kau sedihi namun engkau bicara tentang budi pekerti, orang budiman tidak akan bersedih baik bagi yang hidup maupun yang mati” (BGH-Samkhya Yoga, II.11)

“Tidak pernah ada saat dimana aku, engkau dan para raja ini tidak ada dan tidak akan ada saat dimana kita berhenti ada, sekalipun sesudah ini” (BGH, II.12)

Namun terkadang penutur berpindah ke puisi lainnya seperti: “dia yang  jiwanya terkonsentrasikan oleh Yoga, melihat Atman ada pada semua insan dan semua insan ada pada Atman, dimana-mana ia melihat yang sama” (BGH-Dyana Yoga, VI.29)

Dan akhirnya ditutup dengan puisi berikut: “dia yang tidak bergirang menerima suka dan juga tidak bersedih menerima duka, tetap tinggal tenang dan berteguh iman mengetahui Brahman, bersatu dengan Brahman” (BGH-Karma Samyasa Yoga, V.20).

Kira-kira demikian yang dapat ditanggapi untuk  tulisan indahnya Gede Prama, semoga dapat menambah kedalaman hati yang mengarungi kehidupan ini.

Kategori:PENCERAHAN Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: