Beranda > SANGGAH GEDE > SANGGAH GEDE PAMEKEL DI BANJAR KARANGSUWUNG

SANGGAH GEDE PAMEKEL DI BANJAR KARANGSUWUNG

Untuk ukuran suatu keluarga besar, mungkin patut keluarga Pamekel di Banjar Karangsuwung ini disebut sebagai Keluarga Besar. Karena, jumlah anggotanya hingga saat ini telah mencapai lebih dari 60-an KK. Oleh karenanya wajarlah Keluarga besar Pamekel ini menjadi suatu keluarga yang mendominasi jumlah warga banjar Karangsuwung, (jumlah warga banjar lebih kurang 170 KK). Dan ini pulalah menyebabkan keluarga pamekel mempunyai Sanggah Gede.
Ada beberapa sanggah gede yang ada di Banjar Karangsuwung, seperti sanggah gede: Pamekel; Manikan (sekarang menyebut diri sebagai Arya Manik Wangbang Pinatih); Dauh (sekarang menyebut diri sebagai Arya Dauh); dan tentunya sanggah gede lainnya.
Ada cerita menarik yang pernah terdengar, yang diceritakan oleh salah satu pengelingsir keluarga Pamekel. Dinyatakan bahwa sebelum banjar karangsuwung ini ada, keluarga pamekel yang dikenal dengan sebutan soroh Pasek Gelgel dulunya bertempat di Gelgel Klugkung. Konon ketika kekalahan Kyai Agung Maruti, keluarga pasek pamekel ini mengungsi ke daerah selatan yakni Bualu. Hingga akhirnya berhenti di daerah bukit terjal yang kini dikenal sebagai Pura Batu Pageh atau Pura Batu Rejeng di Ungasan. Karena tekun mengadakan tapa semadi, singkat cerita mendapatlah anugrah keluarga pasek pamekel ini dari Sesuhunan yang melinggih atau berstana di Pura Batu Rejeng itu. Panugrahannya adalah untuk kembali membantu perjuangan ke puri Gelgel (tentunya bersama-sama dengan pasukan lainnya yang masih setia dengan Kyai Agung Maruti). Dan perjuangan ini mendatang hasil memuaskan, sehingga oleh pihak penguasa atau raja (tidak disebutkan siapa rajanya pada waktu itu?) maka keluarga pamekel ini diberi hadiah untuk menempati sebuah daerah di Badung disertai beberapa orang yang ikut dalam arus urbanisasi ini seperti keluarga Dauh keluarga keluarga Tenten dan beberapa orang yang diperkirakan telah memiliki skill dalam menghadapi hidup in. Tempat yang diberikan itu dikenall sekarang sebagai Banjar Karangsuwung (mungkinkah dulunya tempat ini memang merupakan areal yang sepi suung, tidak atau sedikit penghuninya?). Ini tentunya suatu cerita yang patut difilter terlebih dahulu kesejatiannya, namun walaupun demikian halnya tetap saja dibutuhkan informasi awal guna menelusuri suatu keadaan yang sebenarnya gamang dalam suatu kesimpangsiuran cerita. Dan cerita di atas tentunya hanya titik awal menuju ke cerita selanjutnya jikalau ada.

Kategori:SANGGAH GEDE
  1. Gusti Lanang Gede
    4 Desember 2009 pukul 12:09 AM

    Om Swastyastu,
    Semoga selalu berada dalam keadaan selamat dan sehat.

    Salam knal dari saya.

    Saya tertarik dengan cuplikan ini : “Dauh (sekarang menyebut diri sebagai Arya Dauh)”
    Apakah yang dimaksud adalah “Arya Kepakisan Dauh Baleagung”?
    Kalau memang benar, dimanakah tepatnya berdara pura ibu Arya Dauh yang ada dalam postingan bapak tersebut?

    Suksma.
    Om Shanti, Shanti, Shanti. Om

    • adhimastra
      5 Desember 2009 pukul 6:14 AM

      Om Swastyastu,
      Salam kenal juga buat Sdr Gusti Lanang Gede yang telah sempat berkunjung serta mengirim komennya, sekali lagi saya merasa berbahagia krn baru kali ini dikunjungi oleh orang sesama Manusia Bali (wong Bali). Tentang cuplikan “Dauh” atau yang saya maksudkan dulunya biasa dikenal sebagai soroh dauh, namun akhir-akhir ini berubah jadi “Arya Dauh”, untuk hal ini saya mohon maaf tidak bisa menanggapinya krn kawatir nantinya jadi tambah ndak mengerti (krn sy sendiri jg nggak begitu mengerti hal-ikhwal mengapa itu terjadi?). Bagi saya hal-hal demikian tidak lebih dari mengenang semangat kesucian dan keluhuran dari para leluhur kita, tidak lebih dan juga tidak kurang, begitulah saya menanggapi prihal ini. Banyaknya kemunculan soroh-soroh yang gencar mempublikasikan kejatian dirian mereka, bagi saya lebih suka/elegan jika secara serta merta diikuti oleh semangat berjuang guna menjalani swadharma yang melekat pada soroh-soroh tersebut. Tanpa tekad demikian rasanya apa yang dilakukan dengan publikasi seperti itu justru menjadi kontra produktif, saya kira begitu.
      Suksma
      Om shanti, shanti, shanti om

      • Gusti Lanang Gede
        5 Desember 2009 pukul 1:15 PM

        Suksma Bapak.
        Sebenarnya tidak ada apa-apa. Cuma kebetulan saja saya membacanya. Karena saya sendiri juga arya dauh yang berposisi di karangasem, Puri Agung Menanga.

      • adhimastra
        19 Desember 2009 pukul 2:16 AM

        Inggih matur suksma sampun nyarengin ring blog puniki…..

  2. Kalero
    26 Maret 2012 pukul 3:10 PM

    Bagus infonya, saya semeton Pasek Gelgel desa Bualu. Apa mungkin leluhur saya salah satu yang ikut mengungsi ke Bualu ( dulu satu desa dengan Kampial / Ampilan ). Atau leluhur saya memang langsung datang dari Gelgel, karena terdampar / kampih, sehingga desanya disebut Kampial / Ampilan. Mohon pencerahannya, terima kasih

    • 18 September 2012 pukul 7:45 AM

      pak wayan, sinampura tityang tan prasida nyawis pitaken bapak wayan. Dumogi ring galahe sane jagi rawuh digelis kecawis. Suksma

  3. 14 Mei 2014 pukul 2:26 PM

    Iseng melihat di web ini, kreatif !, salam dari semeton lanang dauh Jro Dawuh dualang sibanggde, Mogi rahayu sinamian !

    • 11 Juli 2014 pukul 8:41 PM

      Inggih suksma sampun polih ngelintangin blog sederhana puniki, dumogi rahayu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: