Beranda > adhimastra, materi kuliah > Peranan Etika dalam Dunia Modern

Peranan Etika dalam Dunia Modern

K. Bertens ETIKA, Jakarta 2001 PT Gramedia

Setiap masyarakat mengenal nilai-nilai dan norma-norma etis. Dalam masyarakat yang homogen dan agak tertutup – masyarakat tradisional, katakanlah – nilai-nilai dan norma-­norma itu praktis tidak pernah dipersoalkan. Dalam ke­adaan seperti itu secara otomatis orang menerima nilai dan norma yang berlaku. Individu -individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh. Tapi nilai-nilai dan norma-norma etis yang dalam masyarakat tradisional umumnya tinggal implisit saja, setiap saat bisa menjadi eksplisit. Terutama bila nilai-nilai itu ditantang atau norma-norma itu dilanggar karena perkembangan baru, kita melihat bahwa nilai atau norma yang tadinya terpendam dalam hidup rutin, dengan agak mendadak tampil ke permukaan. Ba­nyak nilai dan norma etis berasal dari agama. Tidak bisa diragukan, agama merupakan salah satu sumber nilai dan norma yang paling penting. Kebudayaan merupakan suatu sumber yang lain, walaupun perlu dicatat bahwa dalam hal ini kebudayaan sering kali tidak bisa dilepaskan dari aga­ma. Juga nasionalisme atau kerangka hidup bersama dalam satu negara mudah menjadi sumber nilai serta norma. BiIa negara dalam bahaya atau merasa dihina oleh negara lain, nilai-nilai itu bisa sampai bergejolak. Demikian halnya, ka­lau dilihat dalam konteks sosial. Kalau kita melihat hal yang sama dari segi individual, bisa saja terjadi bahwa nilai-nilai dan norma-norma itu disadari oleh seorang ter­tentu, karena Ia pindah ke daerah lain. Di Indonesia pun sudah sejak dulu terdapat variasi kecil-kecilan di pelbagai daerah, sejauh menyangkut nilai dan norma. Misalnya, da­lam bidang pergaulan antara muda-mudi dan hubungan antara anak dan orang tua. Bila seorang muda menjadi mahasiswa dan karena itu untuk pentama kali dalam hi­dupnya keluar dari naungan keluarga serta ketertutupan daerahnya, Ia dapat merasakan perbedaan itu. Perbedaan bisa dirasakan lebih tajam lagi, bila perpindahan itu bukan saja dari satu daerah ke daerah lain tapi sekaligus juga dan daerah pedesaan ke kota besar. Apalagi, bila seorang muda disekolahkan ke luar negeri. Bisa sampai terkena cultural shock.

Pengalaman-pengalaman serupa itu selalu sudah terjadi dan tidak merupakan sesuatu yang baru. Dalam masya­rakat tradisional pun berlangsung hal-hal sedemikian. Tapi sekarang ini keadaan masyarakat tradisional itu hampir tidak ada lagi. Praktis tidak terdapat lagi masyarakat yang homogen dan tertutup. Suatu contoh bagus tentang perubahan seperti ini adalah kebiasaan di banyak masyarakat tradisional bahwa orang Tua memilih jodoh bagi anaknya. Di Indonesia pun kebiasaan ini pernah tersebar luas. Dalam sastra Indonesia gejala itu tampak dengan jelas. Antara tahun 1920 dan 1940 banyak novel bertemakan kawin paksa dan campur tangan orang Tua dalam pernikahan anaknya? Sekarang diakui secara umum hak seorang muda untuk memilih teman hidupnya sendiri. Perjuangan hak yang ter­cermin dalam sastra Indonesia ini menandai peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.

Jika kita memandang situasi etis dalam dunia modern terutama tiga ciri yang menonjol. Pertama, kita menyak­sikan adanya pluralisme moral. Dalam masyanakat-masya­rakat yang berbeda sering terlihat nilai dan norma yang berbeda pula. Bahkan masyarakat yang sama bisa ditandai oleh pluralisme moral. Kedua, sekarang timbul banyak ma­salah etis baru yang dulu tidak terduga. Ketiga, dalam dunia modern tampak semakin jelas juga suatu kepedulian etis yang universal. Mari kita memandang tiga ciri ini secara lebih rinci.

Pluralisme moral terutama dirasakan karena sekarang kita hidup dalam era komunikasi. Konon, ketika Chris­topher Columbus menemukan benua Amerika (1492), bos­nya di Eropa – raja Spanyol – baru mendengar tentang ke­jadian itu sesudah 5 bulan. Ketika Presiden Amerika Se­rikat, Abraham Lincoln, dibunuh (1865), kabar itu baru sampai di Eropa sesudah 12 hari. Kini melalui media ko­munikasi modern informasi dan seluruh dunia langsung memasuki rumah-rumah kita, sebagaimana juga kejadian­-kejadian di dalam masyarakat kita segera tersiar ke segala pelosok dunia. Dalam hal ini perkembangan mutakhir adalah Internet. Suka tidak suka, bersama dengan menerima informasi sebanyak itu kita berkenalan pula dengan norma dan nilai dari masyarakat lain, yang tidak selalu sejalan dengan norma dan nilai yang dianut dalam masyarakat kita sendiri. Seperti diketahui, beberapa negara komunis yang sejak Perang Dunia II telah berusaha menutup diri terhadap segala pengaruh dan luar, dalam hal ini hanya sebagian berhasil. Lagi pula, sarana pengangkutan modern seperti pesawat terbang, kereta api dan kendaraan bermotor telah mengakibatkan suatu mobilitas yang belum pernah disaksi­kan sepanjang sejarah umat manusia. Ratusan juta manusia setiap tahun melewati perbatasan negara mereka. Dan kita lihat, mereka pergi semakin jauh, karena sarana pengang­kutan semakin cepat dan pelayanan kewisataan semakin ditingkatkan. Pariwisata sudah menjadi sebuah industri yang dengan sengaja digalakkan untuk menarik sebanyak mungkin devisa. Dunia usaha juga sudah hampir tidak mengenal perbatasan negara, sehingga banyak sekali rnana­jer, konsultan dan teknisi berkeliling dari satu negara ke negara lain, sebagai karyawan salah satu multinational cor­poration. Atau kita lihat saja betapa banyak orang Indonesia pernah menuntut ilmu di luar negeri atau sekarang sedang rnenjalani studi di luar negeri. Tidak dapat disangkal, ma­syarakat kita yang sudah sejak dulu diwarnai “kebhineka­an” sekarang berjumpa dengan kemajemukan norma dan nilai seperti hampir semua masyarakat di dunia. Kema­jemukan itu menyangkut nilai dan norma dalam praktek­-praktek bisnis, umpamanya, tapi juga dalam bidang yang sama sekali lain seperti seksualitas serta perkawinan. Kita lihat, ada beberapa masyarakat yang lebih liberal dan per­misif daripada masyarakat lain tentang hubungan seksual sebelum perkawinan, hubungan homoseksual, pornognafi, dan sebagainya.

Ciri lain yang menandai situasi etis di zaman kita adalah timbulnya masalah-masalah etis baru, yang terutama di­sebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya ilmu-ilmu biomedis. Di antara masalah-masalah paling berat dapat disebut: apa yang ha­rus kita pikirkan tentang manipulasi genetis, khususnya manipulasi dengan gen-gen manusia; apa yang bisa dikata­kan tentang reproduksi artifisial seperti fertilisasi in vitro, entah dengan donor atau tanpa donor, entah dengan ibu yang “menyewakan” rahimnya atau tidak; apakah kita bisa menenima eksperirnen dengan jaringan embrio untuk me­nyembuhkan penyakit Alzheimer-umpamanya, entah ja­ringan itu diperoleh melalui abortus yang disengaja atau abortus spontan? Masalah-masalah etis yang timbul ber­hubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, akan dibicarakan lagi secara khusus dalam Bab yang lain.

Ciri ketiga adalah suatu kepedulian etis yang tampak di seluruh dunia dengan melewati perbatasan negara. Globa­lisasi tidak saja merupakan gejala di bidang ekonomi, tapi juga di bidang moral. Kita menyaksikan adanya gerakan-­gerakan perjuangan moral yang aktif pada taraf internasio­nal. Bisa dalam bentuk kerja sama antara Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, bisa juga dalam bentuk kerja sama antara DPR dari beberapa negara atau serikat-serikat buruh, dan sebagainya. Lebih penting lagi adalah suatu kesadaran moral universal yang tidak terorganisir tapi tampak di mana-mana. Ungkapan-ungkapan kepedulian etis yang terorganisir malah tidak mungkin tanpa dilatarbelakangi oleh kesadaran moral yang universal itu. Gejala paling mencolok tentang kepedulian etis adalah Deklarasi Universal tentanig Hak-hak Asasi Manusia yang diproklamasikan oleh Perseri­katan Bangsa-Bangsa pada 10 Desember 1948. Proklamasi ini pernah disebut kejadian etis yang paling penting dalam abad ke-20. Deklarasi tersebut tidak merupakan pernyataan hak-hak yang pertama dalam sejarah, tapi merupakan per­nyataan pertama yang diterima secara global karena diakui oleh semua anggota PBB. Dan tanpa memandang isinya, hal ini sudah merupakan suatu fenomena yang luar biasa. Kepedulian etis yang sama tampak juga dalam bentuk uni­versal, karena banyak masalah etis yang baru ditandai uni­versalitas juga, artinya, berlaku untuk seluruh dunia. Di sini dimaksudkan terutama masalah-masalah etis yang ber­kaitan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, masalah seperti lingkungan hidup dan sebagainya.

Gejala kepedulian etis yang universal itu sepintas laIu rupanya agak bertentangan dengan pluralisme moral tadi. Untuk sebagian pertentangan itu memang ada dan menjadi semacam kontradiksi implisit yang sering ditemukan pada taraf sosial. Tapi untuk sebagian lain pluralisme moral dan kepedulian etis itu tidak bertentangan karena menyangkut dua lingkup yang berbeda. Pluralisme moral itu terutama menyangkut lingkup pribadi. Bagaimana dua orang yang menyetujui, mau menghayati homoseksualitas mereka bisa diserahkan kepada keputusan pribadi orang-orang itu sendiri karena tidak mengganggu kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan. Di sini tidak dilanggar hak orang lain. Tapi kepedulian etis yang universal terutama menyangkut ling­kup umum, artinya, hal-hal yang tidak bisa diserahkan kepada keputusan pribadi. Misalnya, penyiksaan terdakwa yang diduga terlibat dalam tindakan kriminal tidak pernah bisa diterima sebagai metode interogasi polisi, karena menyangkut lingkup moral umum yang tidak bisa diserahkan kepada selera pribadi polisi. Di sini selalu ada korban yang dilanggar haknya.

Situasi moral dalam dunia modern itu mengajak kita untuk mendalami studi etika. Rupanya studi etika itu me­nupakan salah satu cara yang memberi prospek untuk men­gatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Sudah pernah diketengahkan bahwa alasan-alasan yang kita punya untuk mendalami studi etika sangat mirip dengan situasi di Yunani kuno sekitar pertengahan abad ke-5 s.M..8 Waktu itu kesadaran etis di sana mengalami krisis besar. Pola-pola moral yang tradisional tidak lagi memiliki dasar untuk berpijak, akibat banyak.nya perubahan sosial dan religius. Para Sofis tidak berhasil memberikan jawaban tepat untuk mengatasi krisis itu, tapi sebaliknya meruncingkan keadaan dengan subyektivisme dan relativisme mereka. Adalah So­krates dan Plato yang menunjukkan jalan keluar dan kemelut moral itu. Mereka tetap berpegang pada norma-norma yang berlaku dalam polis (kota negara) yang tradisional di Yunani. Yang baru adalah bahwa mereka mengusahakan suatu pendasaran rasional bagi norma-norma itu. Untuk pertama kali dalam sejarah, mereka mempergunakan rasio untuk meletakkan fundamen bagi norma-norma etis dan dengan demikian mereka memulai etika filosofis. Bagi kita pun tidak ada jalan lain daripada rasio untuk memecahkan masalah­-masalah moral yang kita hadapi sekarang ini. Menempuh cara hidup yang etis berarti mempertanggungjawabkan peri­laku kita berdasarkan alasan-alasan, artinya, berdasarkan rasio. Melalui jalan rasional perlu kita bersama-sama – mungkin sesudah diskusi panjang lebar – mencari kesepakat­an di bidang moral. Salah satu usaha ke arah itu adalah etika terapan yang sekarang dijalankan dalam kalangan luas dan akan dibicarakan Iagi secara khusus dalam Bab yang lain.

7 Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra indonesia, Bandung, Penerbit Binatjipta, 1969, hlm. 25 – 28.

­8A. Wyilemari, “De grondslag van de moraal’, Tijdschrzft voor Filosofie 28 (1966), hlm. 626. Tentang peranan kelompok Sofis dalam krisis moral di Yunani kuno dan reaksi Sokrates serta Plato dapat dibaca: Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, Kanisius, 1992.

  1. 15 Agustus 2012 pukul 11:02 PM

    Do you have a spam issue on this website; I also am a blogger, and I was wondering your situation;
    many of us have developed some nice procedures and we are looking to swap techniques
    with other folks, please shoot me an e-mail if interested.

    • 18 September 2012 pukul 8:08 AM

      Moshe, do you have a sugessation for me

  1. 6 Januari 2011 pukul 8:20 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: