Beranda > adhimastra, Agenda > Topik Diskusi EBA (1)

Topik Diskusi EBA (1)

MURNI DAN TIDAK MURNI

Diskusi ikatan arsitek indonesia (iai) membahas al: arsitek yang murni & tak murni, persaingan pasaran menyebabkan profesi arsitek menggelisahkan. arsitek asing & mahasiswa arsitektur dapat dimanfaatkan.

SOAL murni dan tidak murni rupanja tidak hanja pada benda-benda seperti emas atau madu sadja, tapi djuga dikalangan arsitek. Djika soal ini tidak diketahui umum, setidak-tidaknja diketahui dan dirasakan dikalangan anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) jang mengadakan diskusi dua malam berturut-turut di Tugu awal Maret jang lalu. Apakah arsitek jang murni dan apakah jang tidak murni? Jang murni konon adalah, seperti dikatakan Ir. Tjiputra, alumni ITB jang sekarang memimpin PT Pembangunan Jaya, “jang menghendaki pemisahan tegas antara tugas arsitek dan tugas pelaksana”. Sedang jang dianggap tidak murni, jaitu mereka jang menganggap bahwa arsitek dan pelaksana sesungguhnja berada dalam satu proses.

Silaban. Timbulnja perbedaan pendirian itu rupanja bukan baru sekarang sadja. Ir.W.P. Tjiong, anggota Dewan Perantjang DCI jang turut dalam diskusi mentjeritakan kepada reporter Farchan Bulkin, bahwa sedjak 1954, jaitu ketika terdjadinja pengusiran orang-orang Belanda — termasuk arsitek-arsiteknja — pekerdjaan arsitek dipegang oleh tenaga-tenaga tamatan KWS.

Keadaan demikian jang ditemui oleh mahasiswa-mahasiswa didikan Van Doorman, Ketua Djurusan Arsitektur ITB, ketika menjelesaikan kuliah ditahun 1958. Tentu sadja tidak semua tenaga-tenaga lokal itu tidak bisa mengembangkan diri. Arsitek Silaban misalnja, adalah salah satu tjontoh diantara jang dapat madju dalam praktek. Meskipun begitu, setjara keseluruhan, keadaannja tidak memuaskan bagi beberapa orang arsitek-arsitek muda jang baru menjelesaikan pendidikan itu. Suhartono Susilo pada tahun 1960 achirnja mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia. Untuk apa? Meskipun tidak dikatakan, maksudnja djelas untuk wadah seleksi dan sekalian membedakan antara arsitek jang betul-betul mendapat pendidikan formil dengan mereka jang hanja beladjar dari praktek.

Buku Pintar. Akan tetapi tidak semua arsitek Indonesia waktu itu setudju dengan Suhartono. Dan jang tidak setudju itu antaranja Tjiputra, jang setelah berdirinja IAI, pindah ke Djakarta dan kemudian mendapat kepertjajaan dari Gubernur Soemarno membuat design dan sekaligus djuga memimpin pelaksanaan pembangunan projek Pasar Senen. Dan dalam diskusi, orang jang rupanja menjadi sorotan rekan-rekannja itu mengambil kesempatan menjelaskan posisinja dengan mengutip buku pintar bernama ensiklopedi.

Sjahdan menurut buku pintar itu arsitek bukan hanja melakukan design akan tetapi djuga builder, dan lebih djauh djuga lagi master builder. Dalam perkembangan teknologi sekarang, rupanja pengertian itu mendjadi lebih penting lagi. Sebabnja karena ketjenderungan pada pembangunan-pembangunan besar dalam bentuk real-estate dan apa jang disebut turn-key project. Semua itu menurut Tjiputra, membuat pekerdjaan design hanja sebagian ketjil sadja dalam suatu proses pembangunan. Dan bukti-bukti ditundjukkan pada kontraktor-kontraktor raksasa internasional dengan omzet sampai miljaran dolar — seperti kontraktor Djepang misalnja. Meskipun begitu sistim penjatuan pekerdjaan perentjanaan dan pelaksanaan bukan tidak ada bahajanja jaitu terdjadinja ketjurangan-ketjurangan. Tapi soal ketjurangan adalah soal ada tidaknja dedikasi. Dan dengan bersemangat Tjiputra berkata: “Kita ini bekerdja untuk memadjukan negara. Untuk meningkatkan GNP, bukan?”

Djual Obat. Tentu sadja tidak ada peserta diskusi jang menjahut “bukan” pula. Bagi Suhartono Susilo, Ketua IAI jang djuga adalah Ketua Djurusan Arsitektur Universitas Parahyangan disamping Direktur PT Budaja Bandung di samping lagi Anggota Dewan Teknik Pembangunan, jang djelas sekarang ini tidak ada kedjelasan antara profesi arsitek jang berpendidikan formil dan jang tidak. “Jang perlu sekarang ini adalah adanja pengarahan dan penertiban”, katanja kepada TEMPO. “Bagi saja arsitek itu harus ada standard dan independen. Tidak hanja melajani the haves sadja”. Dan lebih djauh ia melihat “mereka jang terdjun kebidang pelaksana kebanjakan hanja tjari untung sadja”.

Dan bahwa profesi arsitek di Indonesia rupanja sampai sekarang masih kabur djuga ditundjang oleh peserta jang lain. Winant Rooskandr, peserta dari Badan Pengembangan Pendidikan di Bandung berpendapat sebabnja “karena profesi arsitek kita masih dalam perkembangan”. Berbeda dengan diluar negeri dimana profesi arsitek sudah djelas dan sudah punja tradisi. “Sedang dikita jang ada hanja profesional djual obat”, katanja.

Persaingan. Nampaknja soal membuat djelas profesi arsitek ini tjukup menggelisahkan. Apa sebab? Kadji punja kadji ternjata soalnja adalah soal persaingan dengan arsitek asing jang sekarang banjak didatangkan di Indonesia, akan tetapi jang dirasakan lebih pahit saingan dari “arsitek-arsitek sementara” jaitu mahasiswa-mahasiswa arsitektur jang bekerdja sambilan. Persaingan untuk prestasi tentu sadja tidak usah dipandang buruk. Bahkan seperti dikatakan Kartomo “sudah saatnja kita membuka persaingan internasional dinegeri kita”. Tapi soal saingan dari mahasiswa jang bekerdja sambilan memang dirasakan mengantjam betul misalnja oleh Hans Awal, seorang pengusaha Biro Arsitek di Djakarta, atau Hidajat Natakusumah, dari suatu biro-arsitek swasta jang djuga merangkap djadi anggota DPRD Djawa Barat.

Sampai disini soalnja djelas, apa jang diperlukan para arsitek Indonesia itu, jaitu proteksi. Dan untuk memproteksi diri dari inisiatif jang akan ditempuh para arsitek, melalui keputusan diskusi jang kabarnja mau dibukukan, boleh dikatakan pintar djuga. Pertama membentuk organisasi sardjana arsitek dan difihak lain merobah sistim pendidikan arsitek.

Tentang wadah organisasi sardjana rupanja sudah dirintis oleh Piek Muljadi dari Djakarta dan forum diskusi achirnja meresmikan organisasi baru Persatuan Sardjana Arsitek Indonesia itu. Akan tetapi disamping PSAL, oleh Rooskandar dkk djuga diusulkan suatu organisasi alumni jang kelak dapat dipergunakan sebagai forum konsultasi.

Adapun perombakan sistim pendidikan rupanja akan disesuaikan dengan jang dibutuhkan oleh perkembangan sekarang. “Perlu diperhatikan didalam mentjari pemetjahan faktor keadaan pendidikan sebelum universitair, kurikulum dan tenaga pendidikannja”, tulis rumusan hasil diskusi jang disusun oleh 7 diantara 35 orang peserta. Dan 7 diantara 35 peserta itu agaknja dapat dianggap sebagai usaha netralisasi perbedaan pendirian murni dan tidak murni, oleh karena disana disamping terdapat Tjiputra jang dianggap arsitek tidak murni, djuga terdapat Suhartono Susilo jang dipandang mewakili arsitek murni.

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 07/I/17 – 23 April 1971


Artikel ini dicetak dari Silaban Brotherhood: http://www.silaban.net

Diposting oleh Charly Silaban  pada tanggal 17 April 1971  || Kategori Seputar Silaban

Permalink artikel: http://www.silaban.net/1971/04/17/murni-dan-tidak-murni/

Didownload hari rabu 23 April 2008  oleh I Kt. Adhimastra

====================================================

ULASAN – RANGKUMAN PEMANDU

Sesudah saudara mahasiswa peserta matakuliah EBA usai membaca topic ini kemudian saudara membaca juga ulasan dari pemandu di bawah ini, selanjutnya saudara mahasiswa wajib menyampaikan pokok-pokok pikirannya sebagaimana telah disiapkan oleh mahasiswa.

Adapun ulasan – rangkuman dimaksud, adalah:

Ada perbedaan pandangan terhadap keberadaan (eksistensi) arsitek dimasyarakat, yakni pandangan mengenai arsitek yang murni bekerja selaku arsitek dalam lingkup perencanaan yang berangkat dari proses pendidikan formal, dipihak lain ada arsitek yang tidak murni yang bekerja tidak saja/melulu selaku perencana tapi juga merangkap sebagai builder (pembangun/pelaksana/kontraktor). Arsitek tidak murni ini, ada yang berangkat dari proses pendidikan formal, namun tidak jarang juga berangkat dari proses pendidikan non formal.

Dalam perkembangan teknologi seperti sekarang,  pengertian arsitek yang bertindak sebagai builder ataupun master builder lebih penting. Karena kecenderungan pada proyek-proyek raksasa memperlihatkan bahwa untuk pekerjaan disain dalam suatu proyek raksasa, nampak sangat kecil peranannya ketika/disaat-saat suatu proses pelaksanaan proyek. Walau demikian disadari pula ada bahaya dalam pandangan ini karena dikawatirkan adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh arsitek. Hanya saja ada juga yang berkomentar bahwa kekawatiran itu adalah masalah ada tidaknya dedikasi terhadap proyek.

Silahkan sampaikan tanggapan (respon) saudara mahasiswa terhadap Topik dan Ulasan atau rangkuman di atas. Bisa saudara tanggapi dari sisi eksistensi arsitek dalam istilah tradisional Bali (undagi), bisa saudara tanggapi dari sisi Kode etik arsitek, atau tanggapan saudara berdasarkan pemikiran jernih yang muncul dalam pengalaman pribadi atau orang lain.

  1. dewasayang
    11 Februari 2010 pukul 10:28 AM

    bagus IT sudah digunakan dalam mata kuliah
    alangkah baiknya semua dosen bisa seperti ini.

    • administrator
      12 Februari 2010 pukul 3:21 PM

      Mau tidak mau, suka tidak suka, bisa tidak bisa, sekarang qt sdh masuk dunia IT ……. sekalipun ini adalah dunia maya

  2. komang budi ardika
    17 Februari 2010 pukul 11:34 AM

    saya masi mencoba unt menjelajahi cyber world

    • administrator
      17 Februari 2010 pukul 12:23 PM

      mang anda kan sdh familiar dg cyber world (cyber space), tolong temen2 lain di encourage/dorong maju agar mrk lebih terbiasa dg cyber space (IT), skrg anda masuk dong ke materi topik diskusi EBA (1) en ditanggapi/respon sesuai petunjuknya. Terimakasih mang, anda harapan sy untuk memacu rekan2 mhs lainnya

  3. gede kariawan
    9 Maret 2010 pukul 11:56 AM

    soal murni dan tak murni terhadap seorang arsitek ,itu tak lah begitu penting untuk saat ini. yang paling penting adalah jujur dan tak jujurnya seorang arsitek.arsittek yang jujur pasti akan membawa kemajuan yang berarti. bagi saya persaingan dengan arsitek asing , justru akan memberi banyak pengalamandan pengetahuan .sehingga bagi arsitek yang betul-betul menjalankan propesinya [arsitek jujur]akan tetap menjadi pigur.

    • adhimastra
      10 Maret 2010 pukul 1:58 AM

      Buat Dekar, anda sdh ada kemajuan skrg. Memang betul sekali bahwa yang penting adalah arsitek yg JUJUR. Sebelum anda memberi kesimpulan mengenai kejujuran seorang arsitek, Coba lebih dahulu anda sampaikan pemikiran saudara mengenai arsitek JUJUR, bagaimana sih arsitek yg JUJUR itu?
      Sy tunggu balasan saudara, sehingga anda bisa memperoleh poin dalam diskusi ini. Terimakasih

  4. Dewa Putra Adnyana
    12 Maret 2010 pukul 6:43 AM

    Arsitek Jujur:

    Profesional, tanggungjawab, punya dedikasi,

    Profesional : arsitek dalam menjalankan profesinya tidak melanggar kode etik
    Tanggungjawab : bertanggungjawab luar dalam artinya menjaga martabat profesinya baik ke internal organisasinya maupun ke publik.

    Dedikasi : Tidak keluar dari aturan aturan yang berlaku dan paham betul mengenai regulasi yang berlaku dimana profesi itu dilajalankan. Contoh: Bali secara umum akan mengenal perda no: 2,3,4 tahun 74.

  5. Dewa Putra Adnyana
    12 Maret 2010 pukul 7:22 AM

    Arsitek Murni dan Tidak Murni:

    Pendapat dan tanggapan :
    Dari topik diskusi IAI : bahwa jang diperlukan para arsitek Indonesia itu, jaitu proteksi, tapi yang lebih penting dari proteksi adalah pengakuan.

    Dengan kecilnya peran seorang arsitek didalam mega proyek maka sudah tentu akan beralih profesi menjadi builder (jadi tidak murni ) menurut saya sah sah aja.
    Persaingan. “arsitek-arsitek sementara” jaitu mahasiswa-mahasiswa arsitektur jang bekerdja sambilan. Menurut saya kurang sependapat dengan masalah ini karena apabila ada bukaan/lowongan pekerjaan apasaja akan dituntut pengalaman kerja, apalagi pada bidang kearsitekan, akan dibutuhkan tenaga – tenaga yang mempunyai kopetensi yang jelas serta cukup mempunyai pengalaman pada bidangnya minimal 1 tahun.

    • 13 Maret 2010 pukul 4:42 PM

      @dewa PA, terimakasih atas komennya. Silahkan saudara Dewa PA berkomentar seperti itu (sebab tidak ada kepastian untuk membenarkan ataupun menyalahkan pendapat yang jujur datang dari lubuk hati).
      Yang pasti dewa sudah bisa dikompensasi ketidakhadiran dalam mata kuliah EBA tanggal 3 Feb 2010.
      Ingat dewa, anda masih nunggak untuk 10 Feb dan 10 Mar
      Sekali lagi bravo buat Dewa, en tolong diberi motivasi temen2 lainnya. Dan juga Tugas Util 2 sudah harus kumpul setelah Nyepi

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: