Beranda > adhimastra, ARTIKEL > Agama bertemu dengan Ilmu Pengetahuan

Agama bertemu dengan Ilmu Pengetahuan

INILAH.COM, Jakarta- Ilmuan Amerika-Spanyol yang menghabiskan sepanjang hidupnya dalam menyuarakan masalah persimpangan agama dan ilmu pengetahuan berhasil memenangkan US$1,53 juta (Rp 13,8 miliar) karena mengkritisi dua bidang tersebut.

Francisco Ayala, evolusioner genetis dari University of California Irvine yang berusia 76 tahun, dan mantan katolik diumumkan sebagai pemenang Penghargaan Templeton 2010 karena berhasil menganjurkan untuk saling menghormati, namun tetap memisahkan bidang agama dengan ilmu pengetahuan.

Penghargaan ini diberikan secara rutin oleh filantropi John Templeton Foundation, yang memberikan penghargaan sekitar US$70 juta (Rp 633, 5 miliar) dalam hibah ilmiah setiap tahun untuk mendanai penelitian di lima wilayah inti, termasuk Science & Big Questions dan Exceptional Cognitive Talent & Genius and Genetics

Penghargaan ini tetap menuai berbagai kritik. Sebagian besar iluwan sekuler berkukuh untuk percaya bahwa ini sekedar permainan untuk mempromosikan peran agama dalam ilmu pengetahuan.

“Saya berpendapat bahwa sains dan agama tidak perlu bertentangan,” kata Ayala soal penghargaan itu. “Ilmu pengetahuan mengenai proses-proses yang menjelaskan dunia alam, sedangkan agama mengenai makna dan tujuan dunia serta kehidupan manusia.” [ito]

Komentar saya (penulis yg mengutip tulisan ini):

Jadi terkenang dengan kalimatnya Einstein, bahwa agama tanpa ilmu lumpuh namun ilmu tanpa agama buta.  Jadi dalam kehidupan ini kedua bidang itu tak usah berseberangan, bahkan sebaliknya justru harus melengkapi satu sama lainnya. Saya sendiri berpegangan dengan: ilmu pengetahuan dipelajari guna memperoleh penjelasan-penjelasan dari fenomena kehidupan ini, sedangkan agama memberikan kita akan tujuan makna atau arti kehidupan (fenomena) itu. Kemudian, ilmu itu berusaha menganalisa kehidupan memecah-mecah kehidupan jadi berkeping-keping memperdalam suatu masalah kehidupan ini, sedangkan agama memberikan pemahaman tunggal (sintesa) dari keberagaman fenomena yang terpampang didepan kita.

Kategori:adhimastra, ARTIKEL
  1. 1 April 2010 pukul 1:13 AM

    Kenapa kalau di koran/media Indonesia, pasti nominal uang selalu disebutkan untuk menarik pembaca, padahal isinya tidak banyak disajikan, hanya kulit terkupas-kupas sedikit.

    Saya suka artikel dengan topik yang sama tapi ditulis di media asing seperti: http://www.guardian.co.uk/commentisfree/belief/2010/mar/25/francisco-ayala-templeton-prize

    Rasanya lebih pas saja.

    • 3 April 2010 pukul 7:29 AM

      Trims Buat Mas Cahya sudah komen. Sebenarnya sy tdk fokus pada nominal beritanya di awal itu, namun fokusnya pada pendapat sy mengenai posisi agama dan ilmu pengetahuan. Saya sadari maksud mas Cahya yg hendak menyampaikan bahwa sy ikut2 an trend pemberitaan di koran/media Indonesia ketika hendak menyampaikan pokok2 pikiran. Terimakasih atas kritikan membangunnya

      • 3 April 2010 pukul 7:42 AM

        Maksud saya, bukan komentar yang ditambahkan pemilik blog ini. Tapi isi media lokal kita (karena di atas ada yang dipetik utuh dari media lokal kan) yang suka mengambil berita dari banyak lokasi tapi entah mengapa penyajiannya tidak menarik🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: