Beranda > ARSITEKTUR, materi kuliah > Kota Sebagai Produk

Kota Sebagai Produk

B.    Kota Sebagai Produk

  • Teori figure/ground               ——
  • Teori linkage                         ——
  • Teori place                            ——

Jika diperhatikan berbagai literatur mengenai perencanaan dan perencangan kota, maka cenderung ada anggapan bahwa perencanaan kota berfokus pada suatu proses, yaitu rencana. Sedangkan perancangan kota lebih menekankan pada produknya, yaitu desain. Namun, pendekatan tersebut agak bersifat simplifikasi karena seandainya suatu proses tidak berkonsentrasi pada hasil produknya, maka proses tersebut tidak akan berjalan dengan baik karena dilakukan tanpa tujuan konkret. Pada sudut lain, kosentrasi pada produk yang tidak memperhatikan proses pembuatannya akan cenderung tidak menghasilkan produk yang baik, karena tidak realistislah membuat sebuah produk tanpa memiliki perhatian pada proses pembuatannya.

Kenyataan tersebut jelas dan umum pada setiap pembuatan artefak yang kecil, misalnya dalam skala mikro, yaitu rumah. Masuk akal bahwa rumah sebagai sebuah produk yang baik membutuhkan sebuah proses pembuatan yang baik pula. Hal tersebut sering tidak diperhatikan dalam skala makro, yaitu kota. Kadang-kadang ada anggapan bahwa sebuah kota sebagai produk yang baik akan terjadi secara langsung tanpa proses pembuatan yang jelas.

Pandangan tersebut bersifat niaf karena tidak akan terjadi. Misalnya pikiran bahwa banyak pembuatan mobil akan menghasilkan sebuah mobil yang baik tanpa ada tujuan yang jelas dan proses kerja sama yang baik. Tidak harus heran kalau akhirnya mobil tersebut memiliki sepuluh macam rem yang canggih tetapi sama sekali tida ada roda!.

Sama halnya dengan kota. Walaupun sudah jelas bahwa kota sebagai artefak lebih rumit daripada sebuah mobil saja, tetapi bagian-bagiannya tetap memiliki hubungan erat secara bersam-sama, karena kota berarti lebih luas daripada jumlah bangunan yang berada di dalamnya.

Walaupun hubungan arsitektural tersebut harus dibahas secara terpadu dalam bidang perencangan kota, muncul kesulitan bahwa tidak mungkinlah semua dapat tercapai secara sekaligus, karena untuk memahami satu keseluruhan dibutuhkan melihat bagian-bagiannya.

Dalam Bagian B ini tekanan akan diberikan pada teori-teori perencangan kota yang memperhatikan secara khusus kota sebagai produk

1.     Pengantar

 

1.1      Tiga Kelompok Pokok Teori Perancangan Kota

Secara   umum para arsitek tertarik mengenai teori-teori yang memandang kota sebagai produk. Akan tetapi, kelompok teori tersebut sudah memiliki sifat kompleks. Itulah salah satu alasan utama mengapa banyak arsitek dan perancangan kota sering gagal jika mendesain sebuah kawasan kota dengan baik, yakni karena belum memahami lingkup dan hubungan rumit yang ada antara teori-teori tersebut. Tida ada satu jawaban atau satu teori pun yang menjelaskan bagaimana sebuah kawasan seharusnya dirancang sebagai sebuah produk perkotaan.

Walaupun demikian,  kesulitan tersebut tidak perlu membingungkan karena dalam perencangan kota dikenal tiga kelompok teori perkotaan secara arsitektural yang sangat berguna bagi para perancang kota, khususnya jika perancang memperhatikan implikasi antara teori yang satu dan teori yang lain  karena setiap teori memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Oleh sebab itu, setiap teori perlu digabungkan satu dengan yang lain supaya dapat diperoleh suatu analisis kota dan arsitektur yang bermakna sebagai landasan perancangan kota secara arsitektur. Roger Trancik sebagai tokoh perancangan kota mengemukakan bahwa ketiga pendekatan kelompok teori berikut ini merupakan landasan penelitian perancangan perkotaan, baik secara historis maupun modern.[1] Ketiga pendekatan tersebut sama-sama memiliki suatu potensi sebagai strategi perancangan kota yang menekankan produk perkotaan secara terpadu.

(Catatan : ketiga istilah teori berikut ini telah dipakai di dalam bidang perancangan kota serta literatur arsitektur secara umum dan luas, sehingga tidak akan dipakai terjemahannya. Istilah-istilah tersebut juga umum dalam literatur ilmiah di indonesia meskipun implikasi hubungannya jarang dibahas secara luas[2]).

Teori figure/ground

Teori  pada kelompok pertama  ini dapat dipahami melalui pola perkotaan dengan hubungan antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis figure/fround adalah alat yang baik untuk :

–          Mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan (urban fabric);

–          Mengidentifikasi masalah keteraturan massa/ruang  perkotaan.

Kelemahan analisis figure/ground muncul dari dua segi :

–          Perhatiannya hanya mengarah pada gagasan-gagasan ruang perkotaan yang dua dimensi saja;

–          Perhatiannya sering dianggap terlalu statis.

Teori linkage

Teori pada kelompok kedua dapat dipahami dari segi dinamika rupa perkotaan yang dianggap sebagai generator kota itu. Analisis linkage adalah alat yang baik untuk :

–          Memperhatikan  dan menegaskan hubungan – hubungan dan gerakan-gerakan sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric).

Kelemahan analisis linkage muncul dari segi lain :

–          Kurangnya perhatian dalam mendefiniskan ruang perkotaan (urban fabric) secara spasial and kontekstual.

Teori place

Teori pada kelompok ketiga dipahami dari segi seberapa besar kepentingan tempat-tempat perkotaan yang terbuka terhadap sejarah, budaya, dan sosialisasinya. Analisis place adalah alat yang baik untuk :

–          Memberikan pengertian mengenai ruang kota melalui tanda kehidupan perkotaannya;

–          Memberi pengertian mengenai ruang kota secara kontekstual.

Kelemahan analisis place muncul dari segi :

–          Perhatiannya yang hanya difokuskan pada satu tempat perkotaan saja.

Gambar 66. Tiga pendekatan pokok  teori-teori perancangan yang menganggap kota sebagai produk. (Digambar ulang menurut Trancki. Roger. Op.cit hlm. 98)

1.2      Pendekatan Pokok Terhadap Produk Ruang/Morfologi Kota

Yang  diperlukan pada masa kini adalah suatu pendekatan yang terpadu. Ketiga kelompok teori itu bersama-sama mendefinisikan pola massa perkotaan dan tata ruang perkotaan dengan suatu struktur yang jelas di antara solid (massa) dan void (ruang tertutup/terbuka). Sekaligus pula mengatur dan menghubungkan bagian-bagian-bagian kawasan kota serta memberikan respons terhadap ketubuhan orang-orang di kota beserta semua elemen kota yang bersifat arsitekstural, yang tepat dengan lingkungannya. Sebelum melakukan sintesis seperti itu, terlebih dibutuhkan analisis terhadap elemen-elemen arsitektur perkotaan. Aspek tersebut akan mendapat perhatian yang  lebih mendalam pada bab ini.

Pendekatan-pendekatan teori yang dibahas berfokus pada konsep urbanisme (perkotaan) sebagai landasan yang mengutamakan hubungan lingkungan perkotaan secara spasial serta morfologis yang bersifat ‘publik’ di dalam perancangan kawasan perkotaan. Artinya, perhatian secara khusus tidak akan diberikan pada strategi-strategi pemakaian tanah perkotaan (city-land-use) atau masalah sistem prasarana perkotaan (city-infrastructure). Perhatian itu sebetulnya penting, namun strategis tersebut memiliki hubungan erat dengan konsep urbanisme setempat. Oleh karena itu, sebagai permulaan, analisis –analisis perkotaan tersebut sangat dibutuhkan untuk memformulasikan sebuah sintesis perancangan.

Kembali perlu diperhatikan secara arsitektural definisi modern terhadap istilah ‘kota’ yang sudah diungkapkan lebih dahulu,[3] yaitu mengenai penyusunan perkotaan serta hierarkinya. Dalam perumusan tersebut

 Bagan 67. Diagram hubungan antara massa dan ruang perkotaan

akan jelas bahwa prinsip-prinsip dan elemen-elemen arsitektur perkotaan secara fisik perlu diciptakan dan disusun secara dinamis dengan cara tertentu yang sesuai dengan lokasi kawasan di dalam kota. Ciptaan dan susunan tersebut dapat diklasifikasikan dan direalisasikan dengan memperhatikan dua arah perhatian, yaitu melalui perhatian massa atau ruang (lihat Bagan 67).

Bagi kebanyakan perancang, massa perkotaan (struktur positif) tidak begitu sulit untuk memperhatikan, tetapi ruang perkotaan (struktur negatif) sering kurang diperhatikan. Oleh karena perhatian yang  sepihak saja, masuk akal jika penataan kota, baik secara keseluruhan maupun bagiannya, sering kurang berhasil di dalam realitas pembangunan kota secara arsitektural. Penyebabnya adalah pada keterbatasan perhatian dalam penataan kota, di mana muncuk lebih sedikit elemen-elemen perkotaan yang spasial, akibat perhatian hanya diberikan pada elemen yang bersifat massa.

Sebetulnya, ruang (dan secara khsuus ruang terbuka) adalah fenomena yang sudah lama dikenal sejak zaman kuno. Kenyataan itu berarti bahwa ruang terbuka – atau dalam istilah teknis lebih sering dipakai : Open space – sudah lama diperhatikan walaupun dengan bermacam-macam pendekatan. Oleh karena itu, arti open space dan secara khusus urban space (ruang perkotaan) tidak selalu dipahami berdasarkan pandangan yang sama. Akibatnya, open space sering menjadi sesuatu yang subjektif saja. Arti open space harus dibedakan dalam dua aspek, sebagai berikut :

–          Open space  dalam lingkungan gaya arsitektur;

–          Openspace dalam lingkungan ilmu arsitektur.

Dalam lingkungan gaya arsitektur (yang sagat dipengaruhi oleh sejarah seni arsitektur), arti open space adalah sesuatu yang spesifik dan subjektif. Namun dalam lingkungan ilmu arsitektur, open space dirumuskan secara umum dan lebih objektif. Di majalah-majalah arsitektur, gaya arsitektural lebih sering diperhatikan karena dari sudut pandang publisitas hal tersebut lebih menarik. Akan  tetapi, di buku ini tidak akan dibicarakan gaya arsitektur perkotaan karena aspek itu sangat subjektif dan kurang ilmiah. Open space perlu di bahas secara objektif dan umum dengan memperhatikan tiga prinsip-prinsi berikut ini :

 

Bagan 68.  Tiga prinsip ruang terbuka. Istilah-istilah bahasa Inggris yang digunakan sudah dapat dianggap umum, karena di dalam bahasa Indonesia Istilah-istilah ruang publik (umum), ruang semi publik/semi privat, dan ruang privat (pribadi) sering memiliki konotasi yang sedikit berbeda

Sejak puluhan tahun dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang hubungan antara cara pembangunan dan tingkah laku sosial. Meskipun demikian, masih belum banyak literatur yang secara mendalam  membahas konteks tersebut. Rupa-rupanya dimensi ruang serta lingkupnya sebagai objek penelitian kurang menarik bagi ilmuwan sosiologi dan antropologi.[4] Bagaimana dengan para ilmuwan arsitektur? Para arsitek secara umum tertarik mengenai dimensi ruang, tetapi jarang pada implikasi sosialnya. Pemisahan antara ruang dan perilaku tidak berarti bahwa ruang selalu juga secara langsung berarti tingkah laku, dan demikian pula sebaliknya.[5]  Ruang perkotaan tertentu selalu memiliki watak sosial tertentu. Artinya hubungan antara ruang dan dimensi sosial erat dan spesifik sehingga perlu diteliti secara  luas dan baik. Kaitan di antaranya memang rumit, namun banyak ahli kota mengamati bahwa saat ini secara umum ada kecenderungan menurunnya ruang publik (umum) dengan diubah menjadi ruang privat. Bagaimana implikasi bagi kota serta masyarakatnya dalam perkembangan tersebut ? Bagaimana arti ruang perkotaan yang sifatnya terbuka?

Arti Ruang  Terbuka di dalam Tradisi Permukiman Indonesia

Harmen Van De Wai memberikan suatu penjelasan yang menarik mengenai arti ruang terbuka perkotaan di indonesia (khususnya kasus kota Surabaya). Pengamatannya berdasarkan pada beberapa wawancara, khususnya dengan Josef Prijotomo.[6]  Menurut  Van de Wal, kota-kota Asia (dan khususnya kota-kota Indonesia) adalah kota yang bermacam-macam bentuknya dengan tingkat variasi arsitektural yang tinggi. Dalam kota semacam itu tidak ada pandangan terhadap urban space yang dilihat sebagai ruang yang kekososngannya dapat dibentuk. Menurutnya, di dalam lingkungan kota di Indonesia gagasan mengenai urban space tidak relevan, karena kota-kota Indonesia hanya dapat dianggap sebagai kota dengan places (tempat-tempat) dan lines (garis-garis). Dalam pengertian semacam ini ruang terbuka di kota-kota Indonesia hanya dilihat sebagai sesuatu yang kosong dan tidak dibentuk (formless emptiness). Akibatnya, open space menurut pengertian orang Eropa jarang dibentuk di kota Indonesia. Namun, menurut penjelasan tersebut, semua perhatian orang Eropa pada hubungan antara ruang – ruang terbuka tidak berlaku dalam lingkungan Indonesia.

Dari pandangan ini menjadi jelas bahwa muncul dua falsafah tentang open space. Dua pendekatan tersebut memang ada dan berbeda dalam beberapa aspek. Walaupun demikian, solusi yang diberikan van de Wal tidak dapat disetujui karena jarak antara kedua pendekatan tersebut harus diperhatikan dengan cara lain. Sebagai komentar, dapat dikatakan beberapa hal berikut.

–     Secara prinsip, ruang kota yang terbuka dibutuhkan serta digunakan dalam setiap kota di dunia ini, walaupun pendekatan terhadapnya dapat berbeda.

–     Kebanyakan konsep open space di Eropa  pada pokoknya dapat dilihat sebagai pendekatan terhadap open space yang kecenderungannya mengambil sikap aktif (ruang sebagai tujuan pembentuan massa). Kebanyakan konsep open space di negara Asia (sebetulnya tidak semua daerah)  dilihat sebagai pendekatan pasif (ruang sebagai akibat pembentukan massa).

Gambar 69. Ruang terbuka di dalam  salah satu penataan permukiman tradisional di Indonesia, yaitu di Desa Babomatalo. Nias (sumber foto : Bier, Michael. Op.cit. him, 35,36).

–          Di dalam sikap aktif tersebut, kualitas open space sering dinilai secara visual dengan penyusunannya yang bersifat teknis dan dianggap modern. Pada sikap pasif, kualitasnya dilihat dari segi sosial yang disusun secara organis. Oleh sebab itu, di dalam lingkungan kawasan tradisional kualitas ruang terbuka (alun – alun dan sebagainya) yang ada sering tidak diakui dan diperhatikan dengan baik karena dianggap ada secara alamiah, tanpa adanya kesadaran bahwa kebutuhan ruang terbuka sangat berarti bagi suatu kawasan, baik di desa maupun bahkan di dalam kota! Masyarakat perkotaan pun tidak sadar bahwa kehidupannya sedang berjalan di dalam ruang perkotaan, khususnya di kota-kota tropis dan subtropis! Akibat perhatian yang kurang tersebut, maka di dalam suatu perkembangan kota, kualitas ruang perkotaan sering dirusak oleh elemen perkotaan baru yang tidak sesuai lingkungannya.

–          Pendekatan konsep open space yang berasal dari dunia Barat tidak bisa dan tidak perlu diterapkan secara langsung pada dunia Timur dan sebaliknya. Walaupu demikian, pada era globalisasi ini tidaklah mungkin pendekatan terhadap suatu daerah dapat dikembangkan tanpa suatu solusi analisis kota berdasarkan gabungan antara realitas, nilai, serta masalah baru dalam lingkungannya pada saat ini dan pada masa mendatang, yang makin lama makin kuat dipengaruhi oleh globalisasi tersebut.

Jelaskan bahwa masalah pada open space di kota-kota Indonesia tidak sama dengan kota-kota di inggris, Italia, atau Amerika Serikat. Akibatnya, bentuk dan wujud open space di kota-kota Indonesia tidak perlu sama, walaupun banyak contoh sering dijiplak di mana saja pada era globalisasi ini (seperti plaza, mall, agora, avenue  dan lain-lain). Namun demikian, kota-kota Indonesia sangat membutuhkan suatu strategi terhadap arti dan rupa open space yaitu suatu strategi yang tidak hanya terbatas pada apa yang sudah  ada, melainkan berfokus pada kualitas bentuk kota yang selalu perlu ditingkatkan, karena sebuah bentuk kota juga mengekspresikan sebuah kehidupan kota dan sebaliknya, dan kebanyakan yang dilakukan di dalam kota sebetulnya dilakukan dalam ruang terbuka perkotaan.

Sudah saatnya dampak open space dengan segala lingkupnya juga diteliti dengan baik di dalam konteks Indonesia.

1.3      Kesimpulan

Suatu strategis terhadap masalah struktur massa perkotaan dan struktur ruang perkotaan perlu diarahkan secara konkret pada tiga aspek :

Elemen-elemen kawasan kota

Sesuai dengan tiga kelompok teori kota yang pokok

Figure/ground linkage place

Memperkuat

Mentrasformasikan

Memperkenalkan

Bagan 70. Diagram mengenai lingkup elemen-elemen kawasan perkotaan.

1.     Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang sudah ada di dalam suatu kawasan perlu diperkuat supaya kawasan itu lebih jelas dalam realitasnya.

2.     Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang masih berbenturan di dalam kawasan perlu ditransformasikan supaya kawasan itu lebih mendukung realitasnya.

3.     Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang belum ada di dlam suatu kawasan perlu diperkenalkan supaya kawasan itu lebih berarti dalam realitasnya.

Dalam strategi ini tidak semua elemen kota selalu berlaku di dalam morfologi  struktur perkotaan tertentu, karena elemen-elemen perkotaan tergantung pada kawasan dan lingkungannya. Tiga bab berikut secara spesifik akan menyiapkan teori-teori yang berguna secara terpadu bagi pelaksanaan strategi tersebut yang mampu menciptakan suatu produk kota yang berkualitas tinggi.


[1] Trancik, roger, Op.Cit. him. 97.

[2] Pembahasan biasanya hanya berfokus pada teori-teori tersebut secara umum tanpa penerapannya ke dalam konteks di kota-kota Nusantara.

[3]  Lihat him. 5

[4] Curdes, Gerhard. Stadtstruktur und Stadtgestaltung. Stuttgart. 1993. hlm. 202.

[5] Ibid. him 202

[6] Van De Wai, Harmen. Surabaya Johny, The quest for the kampung of tomorrow. Lampiran B. Thesis. Delft. 1991.

  1. Belum ada komentar.
  1. 13 Desember 2012 pukul 12:25 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: