Beranda > Tak Berkategori > Nuklir dan Pilihan Moral

Nuklir dan Pilihan Moral

Nuklir dan Pilihan Moral

Jujun SS. Filsafat Ilmu, hal: 246~252

 

Pada tanggal 2 Agustus 1939 Albert Einstein menulis surat kepada Presi­den Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt yang memuat rekomendasi mengenai serangkaian kegiatan yang kemudian mengarah kepada pem­buatan bom atom. Dalam surat itu Einstein antara lain mengatakan, saya percaya bahwa merupakan kewajiban saya untuk memberitahu­kan kepada Anda fakta-fakta dan rekomendasi sebagai berikut.

Apakah yang rnendorong Einstein merasa berkewajiban untuk mem­berikan sarana kepada Presiden Roosevelt untuk membikin bom atom? Apakah karena dia anti-Rezim Hitler? Apakah karena dia terpanggil oleh kewajibannya selaku warga Amerika Serikat? Sebagai seorang ilmuwan yang menernukan rumus E = mc2 yang menjadi dasar bagi pembuatan bom atom yang dahsyat itu, Einstein merupakan orang yang lebih tahu mengenai akibat dan saran yang dikemukakannya, baik seca­ra fisik rnaupun secara moral.

Alasan Einstein untuk menulis surat tersebut secara eksplisit juga ter­rnuat dalam suratnya kepada president Roosevelt di mana dia mengemu­kakan kekhawatirannya mengenai kernungkinan pembuatan bom atom oleh Nazi. Dia menulis kata-kata:

 

Saya mengetahui bahwa Jerman telah menghentikan penjualan uranium dan Cekoslovakia yang telah diambilalihnya. Bahkan Jer­man telah mengambil tindakan ini mungkin dapat dihubungkan dengan fakta bahwa putra Menteri Muda Luar Negeri Jerman, Von Weimsacker, ditugaskan pada lnstitut Kaiser Wilhelm di Berlin di mana beberapa percobaan uranium yang telah dilakukan di Amerika Serikat sedang dicoba kembali….

 

Sekiranya waktu itu Jerman tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk nembuat bom atom, apakah Einstein akan bersedia menulis surat tersebut?

Pertanyaan ini sangat menarik dan menyentuh landasan moral yang fundamental. Akhir-akhir ini masalah ini dihadapi oleh Presiden Carter mengenai pembuatan bom neutron: apakah Amerika Serikat akan mem­perlengkapi arsenal persenjataan dengan bom neutron? Masalah yang dihadapi oleh Einstein dan Presiden Carter adalah sama namun situasi­nya berbeda. Dewasa ini Amerika Serikat tidak berada dalam bahaya dan pembuatan bom neutron hanya akan meningkatkan kemarnpuan strategis militernya. Sedangkan situasi yang dihadapi Einstein waktu itu adalah keadaan perang yang konkret di mana Sekutu mungkin kalah sekiranya Jerman dapat mengembangkan bom atomnya. Inilah yang me­nyebabkan Einstein memutuskan untuk menulis surat tersebut. Masalah­nya adalah: apakah dengan keputusan tersebut Einstein memihak kepada Arnerika Serikat selaku seorang warga yang baik? Apakah kepu­tusan Einstein didasarkan kepada nasionalisrne dan patriotisrne?

Jawabannya adalah tidak. Keputusan Einstein bukanlah didasarkan kerada nasionalisme atau patriotisrne. Dalarn persoalan semacam ini ilmu bersifat netral. Walaupun demikian dalam kasus ini Einstein telah memilih untuk berpihak. Pihak manakah yang dia pilih, Amerika Serikat? Sekutu? Jawabannya adalah bukan, Einstein, seperti juga ilmuwan yang lain, berpihak kepada kemanusiaan yang besar. Kemanusiaan ini tidak mengenal batas geografis, sistem politik atau sistem kemasyarakatan lainnya.

Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil pene­muannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain rneskipun yang menipergunakan itu adalah bangsanya sendiri. Sejarah telah rnencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintah­nya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan. Ternyata bahwa dalam soal-soal yang menyangkut kemanusiaan para ilmuwan tidak pernah bersifat netral. Mereka tegak dan bersuara sekira­nya kemanusiaan memerlukan mereka. Suara mereka bersifat universal mengatasi golongan, ras, sistem kekuasaan, agarna, dan rintangan-rin­tangan lainnya yang bersifat sosial.

Einstein waktu itu memihak Sekutu karena menurut anggapannya Se­kutu mewakili aspirasi kemanusiaan. Sekiranya Sekutu kalah maka yang akan rnuneul di muka bumi adalah rezirn Nazi yang tidak berperikema­nusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpangku tangan. Dia harus memilih sikap: berpihak kepada kemanusiaan atau tetap bung­kam?

Pilihan moral ini kadang-kadang memang getir sebab tidak bersifat hitam atas putih. Akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki masih berbekas dalam lembar sejarah kemanusiaan kita. Kengerian pengalam­an Hiroshima dan Nagasaki memperlihatkan kepada kita wajah yang  lain dari pengetahuan. Seperti Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang bermuka dan berpribadi belah maka ilmu pengetahuan bagaikan pisau yang bermata dua. Diperlukan landasan moral yang kukuh untuk mempergu­nakan ilmu pengetahuan secara konstruktif.

 

Salah satu musuh kemanusiaan yang besar adalah peperangan. Perang menyebabkan kehancuran, pembunuhan, dan kesengsaraan. Tugas ilmuwanlah untuk menghilangkan atau rnengecilkan terjadinya. pepe­rangan ini meskipun hal ini merupakan sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Perang merupakan fakta dan sejarah kemanusiaan yang sukar untuk dihilangkan. Mungkin hal ini sudah merupakan fitrah dan manusia dan masyarakat kernanusiaan yang sudah mendarah daging. Walaupun demikian Einstein sampai akhir hayatnya tak jemu-jernunya rnenyerukan agar manusia menghentikan peperangan dan perlombaan persenjataan.

Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kernaslahatan kernanusiaan, atau sebaliknya dapat pula disalah­gunakan. Pengetahuan pada dasarnya ditujukan untuk kemaslahatan kemanusiaan. Masalahnya adalah sekiranya seorang ilmuwan menemu­kan sesuatu yang menurut dia berbahaya bagi kemanusiaan rnaka apa­kah yang harus dia lakukan? Apakah dia menyernbunyikan penernuan tersebut sebab dia merasa bahwa penemuan itu lebih banyak rnenimbul­kan kejahatan dibandingkan dengan kebaikan? Ataukah dia akan ber­sifat netral dan menyerahkannya kepada moral kernanusiaan untuk me­nentukan penggunaannya?

Menghadapi rnasalah tersebut majalah Fortune mengadakan angket yang ditujukan kepada para ilmuwan di Amerika Serikat. Angket itu rnengemukakan pertanyaan apakah seorang ilmuwan harus rnenyernbu­nyikan pencrnuan yang dianggapnya berbahaya ataukah dia rnengemu­kakan saja penemuan tersebut dan menyerahkannya kepada moral ke­rnanusiaan untuk kata akhir mengenai kegunaannya? Angket tersebut rnenyimpulkan bahwa 78 persen ilrnuwan di perguruan tinggi, 81 persen ilrnuwan di bidang pernerintahan dan 78 persen ilmuwan dalam industri berkeyakinan bahwa seorang ilmuwan tidak boleh rnenyembunyikan basil penemuan-penemuan apa pun juga bentuknya dan masyarakat luas serta apa pun juga yang akan menjadi konsekuensinya.’)

Kenetralan seorang ilmuwan dalam hal ini disebabkan anggapannya bahwa ilmu pengetahuan merupakan rangkaian penemuan yang meng­arah kepada penemuan selanjutnya. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak melalui loneatan-loncatan yang tidak berketentuan melainkan melalui proses kurnulatif seeara teratur. Penyernbuhan penyakit kanker harus di­dahului dengan penemuan dasar di bidang biologi molekuler. Penemuan laser memungkinkan penggunaannya sebagai terapi medis dalam ber­bagai penyakit. Demikian selanjutnya di mana usaha menyembunyikan kebenaran dalam proses kegiatan ilmiah merupakan kerugian bagi ke­majuan ilmu pengetahuan seterusnya. Dalam penemuan ini maka ilmu pengetahuan itu bersifat netral.

Penulis berkeyakinan bahwa dalam aspek inilah ilmu pengetahuan ter­bebas dan nilai-nilai yang mengikat. Dalam aspek-aspek lainnya seperti apa yang ditelaah oleh ilmu pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu dipergunakan mau tidak mau seorang ilmuwan terikat seeara moral dalam artian mempunyai preferensi dan memilih pihak. Dalam menentu­kan masalah apa yang akan ditelaahnya maka seorang ilmuwan seeara sadar atau tidak sudah menentukan pilihan moral. Hal ini bahkan men­jorok sampai penyusunan hipotesis. Walaupun begitu maka dalam basil penemuan akhirnya seorang ilmuwan tidak boleh menyembunyikan sesuatu. Bagaimana pahitnya basil penemuan itu bagi obyek yang kita junjung dalam sistem preferensi moral kita, kebenaran tak boleb disem­bunyikan.

 

Seorang ilmuwan tak boleh memutarbalikkan penemuannya bila bipo­tesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun di atas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata haneur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian. Seorang ilmuwan yang di atas landasan moral memilih untuk membuktikan bahwa generasi muda kita berkesadaran tinggi (dia terikat kepada generasi muda) atau mem­buktikan bahwa hasil pembangunan itu efektif (dia terikat kepada kebi­jaksanaan pemerintah) maka dalam hasil penemuannya dia bersifat netral dan membebaskan din dan semua keterikatannya yang membe­lenggu dia seeara sadar atau tidak. Di sini hitam dikatakan hitam dan putih dikatakan putih apa pun juga konsekuensinya bagi obyek moral yang mendorong dia untuk melakukan penelaahannya. Penyimpang­an dalam hal ini merupakan pelanggaran moral yang sangat dikutuk dalam masyarakat ilmuwan. Kenetralan dalam hal di atas itulah yang menjadikan ilmu bersifat universal. Ilmu mengabdi kemanusiaan dengan menyumbangkan penemuan-penemuan yang didapatkannya lewat ke­giatan ilmiah. Kemanusiaan bagi seorang ilmuwan tidak terikat oleh ruang dan bahkan tidak oleh waktu. Penemuan ilmiah tidaklah diper­untukkan bagi suatu golongan tertentu namun bagi kemanusiaan seeara keseluruhan. Penemuan yang mungkin han ini kurang relevan dan tidak ada gunanya bukan mustahil akan merupakan batu loneatan ke arab kemajuan di han depan.

Kenetralan dalam proses penemuan kebenaran inilah yang mengharus­kan ilmuwan untuk bersikap dalam menghadapi bagaimana penemuan itu digunakan. Pengetahuan bisa merupakan berkah dan mungkin me­rupakan kutukan tergantung bagaimana manusia memanfaatkan penge­tabuan tersebut. Bila ilmu pengetahuan dipergunakan tidak sebagaima­na mestinya, tidak membawa berkah kepada kemanusiaan sebagaimana yang diharapkan dan bahkan merupakan kutukan, maka dalam hal irti ilmuwan wajib bersikap dan tampil ke depan. Seorang ilmuwan tidak boleh membiarkan Mr. Hyde berkeliaran dan bertindak sewenang-we­nang, dia harus ditentang dan kalau perlu harus dihaneurkan. Secara moral maka ilmuwan bertanggung jawab dalam hal in karena bukan saja penemuannyalah yang melahirkan Mr. Hyde tersebut, namun juga karena dialah yang paling tahu bagaimana menghadapi si jahil itu.

Ada baiknya kita menyimak pesan Einstein kepada mahasiswa Cali­fornia Institute of Technology. Pesan itu disampaikan pada tahun 1938 atau satu tahun sebelum Einstein menulis surat historis yang melahirkan bom atom. Dia berkata bahwa tidak cukup bagi kita hanya memahami ilmu agar hasil pekerjaan kita membawa berkah bagi manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dan semua ikhtiar teknis.

Pesan itu diakhiri dengan kata-kata, “Jangan kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.” Sungguh suatu pesan yang patut kita renungkan karena di tengah tumpukan grafik dan rurnus-ru­mus kadang-kadang kita lupa, semua ini untuk apa? Ternyata ilmu tidak saja memerlukan kemampuan intelektual namun juga keluhuran moral. Tanpa itu maka ilrnu hanya akan menjadi Frankenstein yang akan men­cekik penciptanya dan menimbulkan malapetaka.

Kategori:Tak Berkategori Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: