GEDE PRAMA

Dimuat di koran Suara Merdeka, Minggu 19 Oktober 2008

Gede Prama: Hadapilah Kepalsuan dengan Batin yang Bersih

sumber: klik disini

Lelaki kelahiran Desa Tajun, Singaraja, Bali Utara, ini dikenal sebagai filsuf sekalipun begitu, orang sangat paham ia juga merupakan pembicara andal di bidang manajemen. Pendidikan konsultan yang satu ini memang lebih berbasis ekonomi dan manajemen akan tetapi Gede Prama akhirnya justru lebih populer sebagai guru kehidupan. Apa pendapat lulusan MBA Refreshment Course di Prancis ini terhadap fenomena palsu-memalsu dan mental menerabas yang menghantui negeri ini? Berikut petikan perbincangan dengan penulis ‘Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan’ ini di desa kelahirannya yang hening dan damai belum lama ini.

Belakangan fenomena palsu-memalsu termasuk pemalsuan dokumen di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang kian merebak. Mengapa tragik kehidupan semacam ini gampang terjadi di negeri ini?

Sebenarnya kehidupan kita itu seperti putaran alam. Ada siang yang terang. Ada malam yang gelap. Tampaknya sekarang ini kita sedang berada di putaran gelap. Ini merupakan Zaman Kaliyuga, Zaman Kegelapan. Seperti berjalan di kegelapan, kita ini membutuhkan orang-orang yang bisa menerangi peradaban. Sayang orang-orang semacam itu sedikit. Lebih sayang lagi, di semua bidang baik kedokteran, kepengacaraan, maupun kespiritualan– pada zaman ini, barangkali yang palsu lebih banyak daripada asli.

Saya baru saja membaca buku Brings of the Dawn atau Pembawa Cahaya. Buku berfantasi spiritual ini menyatakan, Bumi ini merupakan wilayah perebutan dan dalam waktu lama dikuasai oleh kekuatan gelap. Sang pengarang lantas menunjuk titik-titik gelap di bumi tempat terjadi konflik, perang, dan permusuhan.

Saya tidak ingin mengatakan yang palsu itu benar atau jelek. Namun saya hendak mengatakan fenomena kepalsuan ini terjadi karena kita memang sedang berada dalam pusaran waktu yang memungkinkan segalanya digoda untuk bergerak di titik yang gelap. Karena itu semua angka kepalsuan naik. Pencurian di Bali juga naik dan pencurinya orang-orang Bali, bukan hanya orang. Barang-barang suci di Bali pun dicuri juga oleh para pencuri Bali. Bali yang memiliki sejarah religiusitas yang tinggi telah berubah sekalipun presentasinya masih kecil.

Mari kita bersahabat dengan putaran zaman. Jika pun kepalsuan tidak bisa kita tiadakan, saran saya terhadap teman-teman yang menyukai kepalsuan, pada saatnya nanti Anda akan dihukum oleh perbuatan sendiri. Sebagai contoh, Marcos Presiden Filipina saat meninggal mayatnya tidak diterima di negeri sendiri. Ini menunjukkan jika Anda menyukai kegelapan dan kepalsuan, hidup Anda juga akan diseret oleh kegelapan dan kepalsuan. Jika Anda hidup di jalan yang agak terang, memang tidak membuat Anda cepat kaya, tetapi setidak-tidaknya Anda akan hidup dalam kedamaian.

Saat ini kita memang masih lama mendapatkan guru pencerah sekaliber Nabi. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah setiap orang menjadi penerang di lingkungan masing-masing. Jika saja di Bali yang berpenduduk 4 juta ini memiliki 10 saja guru asli, keadaan akan menjadi lebih baik. Atau jika kita tidak bisa menjadi guru di lingkungan masing-masing, setidak-tidaknya menjadi guru di keluarga sendiri. Inilah cahaya kecil yang bisa kita wariskan saat kita meninggal.

Ya, kita memang tidak mungkin pada masa ini mendapatkan cahaya besar. Namun jika cahaya-cahaya kecil itu banyak, akan terang juga. Lilin itu bercahaya kecil, tetapi jika 2 miliar batang, apakah tidak akan menerangi semesta?

Hanya perlu saja ingatkan, setelah habis masa zaman kegelapan, kita akan memasuki zaman terang. Karena itu, janganlah berkecil hati menghadapi zaman yang serbapalsu dan gelap ini. Yang menjadi persoalan, kita tidak tahu kapan zaman kegelapan segera berlalu.

Bukankah palsu-memalsu ini sangat berkait dengan mental menerabas?Mengapa kita juga rela hidup dalam kebrengsekan semacam ini?

Di semua tempat memang tumbuh generasi instan. Ada banyak orang ingin pintar tetapi tidak mau belajar, ingin kaya tidak mau bekerja keras. Ini melanggar hukum alam. Anda bisa merampok, tetapi bisa juga Anda masuk ke penjara.

Terus terang, ada beberapa lembaga besar yang pengaruhnya kian menurun. Yang pertama adalah agama. Yang membuat saya sedih, di Eropa, yang ke gereja hanya 10 persen. Yang kedua adalah pendidikan. Wibawa pendidikan juga mulai menurun. Hasil dari pendidikan para doktor dan ahli justru melakukan korupsi. Ini sangat mengecewakan. Minat orang tua di desa saya untuk menyekolahkan anak juga tidak terlalu tinggi. Yang ketiga, institusi keluarga juga sedang runtuh. Sangat banyak perceraian.

Inilah suatu masa terjadi peradaban berguncang keras dan pada saat sama kita hampir tidak memiliki pegangan. Karena itu di Barat, misalnya, orang kian berburu pegangan berupa spiritualitas dan religiusitas. Pegangan mereka bukan lagi kotak-kotak agama. Yang menjadi intisari religiusitas: pertama, mengurangi sekecil-kecilnya berbuat jahat. Kedua, melakukan tugas sebaiknya. Ketiga, memurnikan hati dan pikiran. Spiritualitas dan religiusitas ini bisa menyatukan kelompok-kelompok yang ratusan tahun bertikai. Orang-orang Hindu, Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan agama lain masuk dalam ruang yang sama. Itu sebabnya dalam Global Paradox Naisbitt bilang, “Religion no, Spirituality yes”. Anak-anak muda Indonesia juga kian tekun berburu spiritualitas dan religiusitas. Kian banyak majelis taklim yang mengundang orang-orang lain yang berbasis keyakinan lain.

Persoalan kita: bagaimana kita menularkan pencarian cahaya terang ini ke lingkungan sekitar. Sekali lagi kita tak mungkin menghilangkan kepalsuan dan kegelapan, tetapi jangan sampai mereka dominan.

Apa yang harus dilakukan konsumen pada saat mendapatkan dokter palsu, pemimpin palsu, atau bahkan nabi palsu?

Ya inilah sebuah zaman yang mengharuskan kita superhati-hati. Dulu kita percaya dengan diagnosis satu dokter untuk tindakan operasi yang akan kita lakukan. Sekarang kita memang harus menggunakan opini kedua dan ketiga dari dokter lain. Terhadap pemimpin palsu atau nabi palsu, kita juga harus bersikap sangat hati-hati. Terutama di bidang spiritualitas dan religiusitas, kita harus berhati-hati saat berjumpa dengan sang guru kehidupan. Kadang-kadang yang asli terlihat palsu, yang palsu terlihat asli.

Namun jangan khawatir. Kita masih memiliki filter. Filternya: Anda harus membersihkan batin Anda. Jika batin Anda bersih, batin hanya akan terhubung baik dengan yang bersih. Dan untuk menghasilkan yang baik itu, jika Anda Islam, ya lakukan syariat Islam sebaik-baiknya. Jika Anda Kristen, ya lakukanlah Sepuluh Perintah Tuhan sebaik-baiknya, jika Anda Buddha, lakukan Sila sebaik-baiknya juga.

Memang ada perbedaan cara melakukan, tetapi ada satu kegiatan yang sama yang juga bisa dilakukan: membersihkan batin. Dalam batin yang bersih, Anda akan mendapatkan guru kehidupan yang bersih. Jika batin Anda bersih, melihat Sidharta Gautama mungkin hanya mendapatkan tubuh yang berbadan besar dan bertelinga tebal. Jika batin bersih, bisa saja saat bertemu dengan tukang parkir pun Anda menganggap bertemu dengan sang sumber kesucian.

Pendek kata, bersihkan batin Anda. Dengan batin yang bersih, Anda seperti sudah menyalakan lilin pada waktu yang gelap. Tindakan ini sekurang-kurangnya, tidak akan membuat Anda tersandung. Ciri-ciri orang berbatin bersih, mereka tidak akan tertarik mengikuti yang palsu-palsu. Jika Anda tertarik mengikuti yang palsu-palsu, itu pertanda lilin pencerah Anda belum menyala.

Jika kian banyak lilin yang menyala, kian banyak orang-orang yang berada dalam kegelapan menemukan alternatif.

Di sana ada cahaya, ke sana kita akan pergi. Bayangkan jika semua berada dalam kegelapan, maka segala tembok akan kita tabrak.

Ya, saya percaya pada teman-teman di Barat yang bilang, Pada putaran zaman sekarang ini tidak mungkin muncul cahaya matahari nabi seperti dulu. Jika pun ada, guru-guru semacam itu akan dicurigai.

Apa sanksi bagi para pemalsu?

Alam sudah memiliki hukum lengkap. Tidak perlu ditambah lagi hukum-hukum baru. Jelasnya: di sungai ada makhluk lembut bernama air, ada barang keras bernama batu. Air karena lembut bisa pergi ke tempat-tempat yang jauh… dari gunung ke laut. Batu karena keras seumur-umur berada di satu tempat. Jadi bagi mereka yang mencintai kesucian dan kebersihan batin, ia akan sampai di tempat yang jauh. Bagi mereka yang mengikuti jalan batu, berhati-hati, bisa masuk penjara. Jika tak korupsi, Anda tak perlu takut sekalipun sepeleton anggota Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) mengepung rumah. Jika Anda korupsi, berhadapan dengan orang-orang berambut cepak saja, Anda anggap bertemu intel.

Jadi sekali lagi, tidak perlu menambah sanksi baru. Sudah ada hukum yang sempurna dan biarkan siapa pun hidup dan mengikuti perputaran hukum. Mereka akan terhukum oleh perbuatan sendiri. Jika saat ini belum terhukum, itu hanya persoalan waktu.

Jadi ada semacam azab yang secara otomatis menghukum para pemalsu?

Hazrat Inayat Khan pernah bilang, Engkau yang memberi berkah kepada orang baik, Engkau juga yang memberi musibah orang jahat. Lalu ada jawaban, Bukan. Bukan. Orang jahat itu mengundang musibah bagi dirinya sendiri. Orang baik mengundang berkah dirinya sendiri.

Dalam bahasa Hindu-Buddha, Tuhan tidak mengubah hukum, tetapi membiarkan bekerja sendiri. Jika kau berbuat jahat dan tak masuk penjara, tidur Anda tak akan tenang.

Oke banyak penganjur kebajikan, tetapi mengapa juga banyak penganjur peradaban kepalsuan?

Jika bertolak dari gambaran alam yang tampak pada lambang yin-yang, Itu karena mereka mau putih, tetapi tidak mau hitam. Mau baik, tidak mau buruk. Kebahagiaan dengan berpikir semacam itu akan datang dan pergi begitu saja. Anda senang saat bahagia, dan marah-marah saat berduka. Itulah cara memandang hidup yang hitam putih.

Sekarang kita lihat gambaran yang lebih holistik. Putih ada karena ada hitam. Hitam ada untuk memperterang putih. Orang suci tak terlihat jika tidak ada orang jahat. Muhammad menjadi tampak bercahaya karena ia hidup pada zaman jahiliah. Yesus begitu juga. Jika Yesus, Siddharta, dan Muhammad berkumpul tak akan kelihatan. Di sesama cahaya, cahaya-cahaya itu tak akan kelihatan.

Saran saya jika Anda mencintai kebajikan, sinar terang, dan sebagainya janganlah membenci kejahatan secara berlebihan. Namun kebencian berlebihan terhadap kejahatan, justru mempertunjukkan bahwa kita sendiri jahat. Mereka ada untuk membuat Anda yang suci akan tampak lebih terang.

Jadi, apa kata sederhana untuk berhadapan dengan yang palsu?

Hadapi para pemalsu itu dengan batin yang bersih. Hadapilah kejahatan itu dengan cinta. Cinta dalam artian yang dalam. Bukan cinta yang ingin menyogok Tuhan.

Wartawan: Triyono Triwikromo

===================================================

TATA RUANG BALI

oleh: I Gd Prama

diunduh dari: http://gedeprama.blogdetik.com/2010/02/08/tata-ruang-bali-shanti/

Setiap orang Bali yang sembahyang ke Pura tahu, setelah selesai sembahyang kemudian diperciki tirta (air suci), tatkala siap-siap meninggalkan tempat sembahyang semua mengucapkan kata shanti (damai) tiga kali. Sebuah pertanda sederhana, berkah spiritual yang kita bawa dari Pura ke kehidupan keseharian adalah batin yang damai.

Sekaligus memberikan cahaya bimbingan, ketika manusia Bali mau memutuskan hal-hal yang penting (apa lagi yang sangat penting seperti rencana tata ruang pulau Bali ke  depan),  seyogyanya dibimbing oleh batin yang damai. Adu argumentasi memang tidak bertentangan dengan batin yang shanti, sejauh dilakukan untuk saling menginspirasi, bukan untuk saling menyakiti.

Tata ruang spiritual

Keharmonisan antara alam material dan alam spiritual adalah  sebuah warisan tetua Bali yang berkontribusi tinggi terhadap Bali seperti yang kita warisi. Menyadari ini, sebelum melangkah mendalam di tataran ruang-ruang material, mungkin bijaksana bila kita mendalami ruang-ruang spiritual orang  Bali. Boleh saja orang lain di tempat lain menggunakan pendekatan lain, namun warisan spiritual tetua Bali mengajarkan barometer utama dalam melihat tata ruang spiritual adalah Parama Shanti. Seberapa damai kita dalam keseharian.

Bagi orang Bali yang mata spiritualnya terbuka, dekat batinnya dengan warisan tetua Bali, susah untuk tidak tersentuh atau menitikkan air mata ketika mengetahui bom teroris meledak dua kali, angka bunuh diri terus semakin tinggi, angka perceraian semakin meninggi dari hari ke hari. Dan tentu masih bisa ditambah lagi dengan yang lain.

Bila menggunakan cara memandang lain, mungkin wajah spiritual Bali juga lain, namun dalam teropong Parama Shanti, mungkin layak dikemukakan sejumlah pertanyaan. Dibandingkan dengan tetua yang lebih miskin materi dulu, adakah kita hidup lebih shanti? Dibandingkan dengan tetua yang sebagian buta huruf namun rukun, adakah limpahan sarjana membuat kita lebih shanti?

Dalam pandangan spiritual, di tempat atau putaran waktu di mana keserakahan, kemarahan, iri hati, kebencian menjadi kekuatan yang mengalahkan segalanya, di sana Parama Shanti menjadi barang langka. Lebih dari itu, dalam kekeruhan keserakahan dan kebencian, setiap langkah semakin mendekatkan manusia pada musibah.

Bercermin dari sinilah, mungkin pembahasan tentang tata ruang akan lebih bersih sekaligus jernih bila dilakukan secara pelan perlahan sekaligus penuh persahabatan. Serupa dengan tirta yang lagi keruh karena berisi bunga, beras dll, hanya bila diletakkan dalam ketenangan beberapa waktu ia bisa kembali bersih sekaligus jernih.  Dalam bimbingan kejernihan seperti ini, baru mungkin lahir solusi tata ruang jangka panjang yang menyejukkan.
Tata ruang material

Entah bagaimana tetua Bali di tempat lain mengajarkan generasi penerusnya. Di desa Tajun Bali Utara ada tetua yang mengajarkan konsep luan-teben (hulu-hilir). Dengan perkecualian Pura Bukit Sinunggal yang dulunya di hulu, kemudian karena perpindahan lokasi desa menjadi di hilir, di hulu (luan) desa diletakkan semua kesucian, di hilir (teben) ditempatkan hal-hal yang jauh dari kesucian. Namun, apa pun sebutan kepada ruang-ruang di hilir, ia senantiasa ditempatkan
dalam  kerangka Bhur Bvah Svah (semuanya bagian dari Tubuh Tuhan yang sama). Kaki memang di bawah, kepala memang di atas. Namun tanpa kaki, kepala sangat  terhambat kegiatannya. Kesucian memang menggetarkan, tetapi kekotoran yang membuatnya semakin bercahaya.

Kendati demikian, kepala dan kaki memiliki penutup (pelindung) yang berbeda. Kaki penutupnya sepatu. Kepala penutupnya destar. Meletakkan sepatu di kepala, atau destar di kaki akan mudah menjadi awal kekacauan kosmik (cosmic disorder).

Di desa Tajun dan desa-desa tetangga, ada yang melanggar ketentuan luan-teben ini. Sebagai contoh, kuburan yang seyogyanya terletak di teben, diletakkan di luan. Sebagai akibatnya, bertahun-tahun terjadi kekacauan kosmik yang menakutkan di tempat ini (pembunuhan, bunuh diri, gantung diri dan sejenisnya).

Menata kembali ruang kosmik, inilah yang layak diendapkan dalam-dalam ketika kita harus menata ulang tata ruang. Di wilayah hulu (bila kita sepakat menggunakan pegunungan di tengah pulau Bali sebagai acuan kaja), akan bagus sekali bila diputuskan radius di mana semua bentuk kegiatan pariwisata ditiadakan, hunian manusia dibatasi. Bila mana perlu pepohonan tua pun dilarang untuk ditebang.

Namun karena ini akan memberikan disinsentif merugikan kepada warga dan pemilik tanah yang hidup di sana, mungkin layak memberikan insentif agar tidak terjadi penolakan. Misalnya, memberikan mereka bibit-bibit secara gratis, harga pupuk yang lebih murah, sekaligus fasilitas memprioritaskan menampung hasil pertanian mereka di hotel-hotel di Bali.

Pantai sebagai wilayah hilir memang tidak selalu diletakkan sebagai teben terutama karena banyak Pura suci yang ada di sana. Ini juga serupa. Segera disepakati secara jernih wilayah jangkauan kesucian Pura sehingga tatanan kosmik terjaga baik. Pola insentif (sebagaimana wilayah pegunungan) juga layak dipertimbangkan.

Dan karena tanda-tanda kekacauan kosmik sudah terlihat jelas dan transparan, inilah saatnya diperlukan ketegasan sikap para pihak terkait, agar tata ruang dikembalikan ke posisi sebagaimana kita terima dari tetua Bali. Keadaannya serupa dengan Krishna yang harus turun bertempur menemani Arjuna. Dalam bagian yang amat kritis, Krishna bahkan memerintahkan Bima memukul kaki Duryodana. Diperlukan banyak keberanian dan ketegasan agar ruang-ruang kosmik bisa kembali ke posisi semula.

Kembali ke cerita parama shanti, bagi pekerja, damai berarti keadaan tersedianya pekerjaan. Di mata pertapa, damai adalah buah dari welas asih kita pada semua mahluk. Untuk penyembah (bakta), damai adalah keadaan batin yang sujud dan penuh bakti. Dan bagi elit yang lahir di waktu ketika kekacauan kosmik terjadi di mana-mana, shanti adalah keberanian untuk mengembalikan tatanan ke bentuk aslinya sebagai Bhur Bvah Svah. Yang di bawah kembalikan ke bawah, yang di tengah kembalikan ke tengah, yang di atas kembalikan ke atas. Inilah tata ruang Bali Shanti. Warisan terpenting yang bisa kita berikan kepada  generasi berikutnya.

disalin 12 Feb 2010, oleh: adhimastra

==========================================================

RENUNGAN HARI NYEPI 2008
Shanti, Shanti, Shanti…

Oleh: Gede Prama

Andaikan fisikawan besar Albert Einstein masih hidup, mungkin ia tidak akan mengira bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan sepesat sekarang. Namun, sebagaimana hukum alam, tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi memakan ongkos tidak sedikit.

Daya utilisasi manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek maju pesat diikuti daya destruksi yang lebih dahsyat. Meminjam hasil penelitian sejumlah ilmuwan yang menekuni social construction of technology, sebagai contoh Bijker, Hughes, Pinch (ed) dalam The Social Construction of Technological Systems, awalnya iptek hanya membantu manusia, belakangan manusia mulai gagap menyesuaikan diri terhadap iptek temuannya sendiri.

Semua bidang kehidupan (termasuk agama) mengalami kegagapan dalam menanggapi kepesatan kemajuan iptek. Lihat, negara-negara yang ada di barisan terdepan dalam iptek, dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, sampai Perancis. Banyak indikator sosial (depresi, kriminalitas, dan konflik) menunjukkan bahwa iptek tidak saja tidak menjawab semua, tetapi juga menghadirkan aneka kerumitan baru.

Keadaannya mirip perlombaan penemuan teknologi pestisida dengan bertumbuhnya hama. Semakin keras iptek berusaha membasmi hama, semakin banyak muncul hama dengan tingkat kekebalan yang kian tinggi dan kian rumit. Pemanasan global dan konflik tiada henti hanya sebagian contoh kegagapan manusia di depan iptek temuannya sendiri.

Di tengah aneka kegagapan seperti ini, izinkan sekali-sekali bukan iptek yang berbicara, tetapi keheningan. Bukan untuk mengganti, apalagi menggurui, hanya mau berbagi serpihan kontemplasi.

Kesempurnaan dalam kealamian

Tatkala J Krishnamurti mengajarkan untuk kembali ke kesegaran pandangan ala anak-anak (maka karya masterpiece-nya berjudul Freedom from the Known), banyak sahabat di Barat mengerutkan alisnya, tanda tidak mengerti. Lebih dari tidak mengerti, ada yang mencurigainya sebagai langkah mundur pertumbuhan jiwa.

Tentu boleh-boleh saja berpendapat demikian. Sebebas kupu-kupu terbang menghinggapi bunga, sebebas burung elang terbang di udara. Dan bagi jiwa yang biasa menyatu dengan kealamian alam semesta, akan mengerti jika ada kesempurnaan dalam kealamian.

Kelapa tumbuh di pantai yang panas. Cemara segar bugar di gunung yang sejuk. Ikan berenang di air, serigala berlari di hutan. Ketika hujan dingin, ayam berteduh di bawah pohon, bebek mencemplungkan diri di kolam. Semua sempurna dan berbahagia di tempat alami. Tanpa kata-kata, tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya diperlukan upaya melihat apa adanya. Siapa yang bisa mengalir sempurna dengan kealamian ini, ia sudah menjadi kesempurnaan itu sendiri.

Perhatikan alam lebih dalam lagi, semuanya berjalan mengalir tanpa keluhan. Siang, malam, panas, dingin. Alam menerima segala musim tanpa keluhan. Di luar terlihat lemah, tetapi jauh di dalam mereka kokoh dalam kepolosannya.

Lebih-lebih pohon, jauh sebelum para nabi mengajarkan keikhlasan dalam diam, pohon sudah lama mempraktikkannya tanpa suara. Maka Kahlil Gibran mengagumi pohon karena ia perlambang pertapa yang berjalan mendekati cahaya dalam diam dan keikhlasan sempurna.

Arsitek kenamaan dari Australia, Andrian Snodgrass, menulis dalam mahakaryanya yang mendalam, The Symbolism of the Stupa, baik stupa dan pagoda orang Buddha maupun meru orang Bali, sama-sama mau mengonstruksikan kehidupan pertapa yang menyerupai pohon: berjalan menuju cahaya dalam diam dan keikhlasan sempurna. Pertapa suci di bukit Arunachala (India), Ramana Maharshi, menyebut perjalanan seperti ini dengan Dhaksinamurti (Shiva teachings in silence). Shiva yang hanya bisa dijumpai dalam diam.

Kepasrahan total seperti ini lebih mungkin terjadi saat tidak ada lagi keinginan, tidak ada lagi masa lalu yang disesali, tidak ada lagi masa depan yang ditakuti. Yang tersisa hanya keikhlasan sempurna di masa kini yang abadi. Sebuah batin yang sepi dan sunyi.

Dalam bahasa Nagarjuna: ”one who is in harmony with emptiness is in harmony with all things”. Ia yang menyatu rapi dengan kekosongan sedang menyatu rapi dengan semuanya. Ini yang membuat Simpkins dan Simpkins menyimpulkan: ”emptiness is marvelous”. Kekosongan itu menakjubkan.

Buddha Gautama pernah ditanya oleh muridnya di hutan. Dengan sigap Buddha mengambil daun, kemudian bertanya: mana lebih banyak daun di tangan ini atau daun yang tersebar luas di hutan? Tentu saja daun di hutan lebih banyak. Kata-kata serupa dengan daun di tangan. Ia tidak terbatas, tetapi kerap menjadi bahan percekcokan yang mengotori perjalanan.

Mungkin ini yang membuat tidak sedikit orang Bali mengalami kesulitan menyentuh Parama Shanti (damai yang mahautama) sebagai puncak persembahyangan. Setiap kata selalu memunculkan lawan tandingannya. Salah dilawan benar, gagal dilawan sukses, suci dilawan kotor. Dan riuhlah kehidupan.

Siapa yang berani mengembalikan kata ke tempat semula sebagai pembantu, lalu membimbing diri dengan keutamaan perjalanan ala pohon, ia tidak saja kembali ke kesegaran pandangan anak-anak, menyentuh puncak dzogchen (tantra): nothing positive to accept nothing negative to reject, mencapai apa yang disebut Suzuki Roshi sebagai zen mind beginner’s mind, tetapi juga mengalami batin yang shanti, shanti, shanti (damai, damai, damai).

Bukan damai yang berlawankan kekacauan, bukan damai yang diikuti rasa suka kemudian menderita tatkala ia tiada, namun damai karena semuanya sempurna dalam kealamiannya. Di titik pusat Pura Besakih, Bali, (antara kiwa-tengen) ia disebut Parama Shunya (ketiadaan yang mahautama). Buddha menyebutnya Shunyata. Meminjam Rohit Mehta (The Call of the Upanishads): ada keheningan dalam kekacauan, ada kekacauan dalam keheningan.

Seperti menyimpulkan, ketiadaanlah diri yang sesungguhnya. Ketika hanya ketiadaan menghuni batin, hidup berputar hanya untuk memberi, karena pemberian itulah pembebasan.

Selamat hari Nyepi, selamat Tahun Baru Saka 1930. Semoga shanti menyinari semua kegelapan (kebingungan, kebencian, keserakahan) dari Bali.

URL Source: http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.01571067&cha

Gede Prama
Bekerja di Jakarta; Tinggal di Perbukitan Desa Tajun, Bali Utara

disalin 9 Feb 2010, oleh adhimastra
  1. 3 Mei 2013 pukul 2:10 AM

    What people call toning is actually a combination of building muscle with burning
    of fat. To be honest, the only things that had helped me to lose
    my weight quickly were exercises and healthful feeding.
    This affects your digestion and causes constipation.

  2. 13 Juli 2013 pukul 8:45 AM

    Right here is the right site for anybody who really wants to find out
    about this topic. You understand a whole lot its almost hard to argue with you
    (not that I personally will need to…HaHa). You definitely put a fresh
    spin on a topic which has been written about for a long time.
    Excellent stuff, just excellent!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: